Tradisi 'Barayo di Rumah Godang' Masyarakat di Sentajo tak Tergerus Zaman
Selasa, 01 April 2025 - 16:26:34 WIB
 |
| Kolase, suasana berayo di rumah godang Sentajo (Foto: Ade) |
SULUHRIAU, Sentajo Raya- Ada tradisi unik dan menarik masyarakat di Kenegerian Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Provinsi Riau yakni "Barayo di Rumah Godang" (berhari raya ke rumah godang).
Tradisi ini dirangkai dengan perayaan Hari Raya Idul Fitri yang dilkasanakan setiap tahun, tepatnya hari kedua hari Raya Idul Fitri.
Berayo di Rumah Godang ini dilaksanakan di Rumah Godang yang berada di Desa Koto Sentajo Kecamatan Senatajo Raya.
Tahun ini, Idul Fitri 1446 H/2025 M, kembali dilaksanakan. Ribuan masyarakat berkumpul dari berbagai puak atau suku, terdiri dari Suku Malayu, Tanjung, Pitopang, Piliang, Piliang Lowe, Piliang Soni, Caniago.
Dari suku induk itu terbagi pula beberapa puak suku dan berkumpul di masing-masing rumah godang yang ada di Koto Sentajo sebanyak 18 rumah godang.
Rumah Godang adalah sebuah rumah adat yang menjadi simbol kebesaran dan kehormatan bagi masyarakat setempat. Rumah Godang, dengan arsitektur khas dan megah, menjadi tempat berkumpulnya keluarga besar dan masyarakat untuk saling berkunjung, berbagi kebahagiaan dan mempererat tali persaudaraan.
Tradisi ini dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh penghulu Niniak Mamak atau tokoh adat setempat. Setelah itu, warga yang datang saling bersalaman, berbagi hidangan tradisional khas daerah, seperti ketupat, rendang, dan berbagai jenis kue-kue lebaran.
Tak hanya itu, acara ini juga diwarnai dengan hiburan berupa seni tradisional, seperti silek sentajo atau silat daerah menambah keceriaan suasana.
Menurut tokoh adat Kenegrian Sentajo, H Asbar, tradisi berhari raya ke Rumah Godang memiliki makna yang sangat mendalam.
"Selain sebagai ajang silaturahmi, tradisi ini sudah dilaksanakan sejak beratus tahun yang lalu dan juga merupakan cara untuk mengingatkan kita akan pentingnya menjaga kebersamaan dan gotong royong dalam kehidupan bermasyarakat. Rumah Godang sebagai pusat kebudayaan kita, menjadi tempat yang sangat simbolik bagi masyarakat," ujarnya.
Acara berhari raya ke Rumah Godang tidak hanya melibatkan warga setempat, tetapi juga menarik perhatian para perantau yang pulang ke kampung halaman.
Mereka yang tinggal di luar daerah atau bahkan luar negeri, selalu merindukan momen ini untuk kembali ke akar budaya mereka dan merayakan Idul Fitri bersama keluarga besar.
Dengan semakin berkembangnya teknologi dan perubahan zaman, tradisi ini tetap dilestarikan secara turun temurun oleh masyarakat Kenegerian Sentajo sebagai upaya menjaga identitas dan budaya lokal di tengah modernitas.
Setiap tahun, tradisi ini semakin dirayakan dengan semangat yang tinggi, hingga tahun ini. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya menjaga warisan budaya bagi generasi mendatang. (*)
Penulis: Ade Pandra
Editor: Khairul
Komentar Anda :