Rabu, 22 Mei 2024
Diduga Putus Cinta, Pria Warga Pulau Jambu Nekat Akhiri Hidup Gantung Diri di Jendela Kamar Rumahnya | Sore Ini, Pj Gubri Dijadwal Lantik Risnandar Mahiwa Sebagai Pj Wali Kota Pekanbaru | Pengakuan Bapak Paruh Baya Ini, Bagian Alat Vitalnya Hilang Saat Operasi Prostat, Suram Urusan... | Burung Kuaghan "Sikowan" akan Jadi Maskot Pilkada Kampar 2024 | ABK Hilang Terjatuh di Sungai Kuala Anak Mandah Inhil Ditemukan Meninggal Dunia | Risnandar Mahiwa Dikabarkan Sosok akan Jadi Pj Wako Pekanbaru Gantikan Muflihun
 
Religi
Petuah Ramadhan DR H Ahmad Supardi
Idul Fitri Perayaan Kemenangan

Religi - - Kamis, 11/04/2024 - 13:37:04 WIB

HARI Raya Idul Fitri adalah hari Raya kemenangan bagi umat Islam, yang telah dengan sukses berperang melawan hawa nafsu selama satu bulan penuh.

Dengan melaksanakan ibadah puasa Ramadhan sesuai dengan perintah Allah SWT dalam Al-Qur’an: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, mudah-mudahan kamu menjadi orang yang bertakwa”(Q.S.Al-Baqarah:183).

Melawan hawa nafsu, sebagaimana disebutkan dalam salah satu hadis Rasulullah SAW sebagai sebuah perang besar, melebihi dahsyatnya perang Badar.

Idul fitri secara harfiah adalah kembali kepada fitrah, yaitu kesucian sebagaimana digambarkan dalam salah satu hadist Nabi: “Barang siapa yang melaksanakan ibadah puasa Ramadhan dengan iman dan mengharap ridha Allah SWT, maka diampunkan segala dosanya yang telah lalu, sehingga ia menjadi orang sebagaimana ketika dilahirkan oleh ibunya”. Bersih dari noda dan dosa seperti halnya kertas putih kosong yang belum tersentuh dan ternoda oleh sesuatu apapun juga.

Disebut kembali kepada fitrah yaitu kembali seperti ketika dilahirkan oleh ibunya, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW: “Setiap orang yang lahir ke dunia adalah dalam keadaan fitrah, maka kedua Ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani dan bahkan Majusi”.

Dengan ibadah puasa Ramadhan yang dijalankan selama satu bulan penuh, umat Is- lam kembali lagi kepada fitrahnya semula yaitu bersih dari noda dan dosa.

Insan Baru

Ibadah puasa Ramadhan yang dilaksanakan selama satu bulan penuh, secara teoritis, telah membawa umat Islam mencapai derajat tertinggi di sisi Allah SWT yaitu predikat taqwa. Sikap taqwa merupakan pencapaian tertinggi dalam beribadah. Takwa akhirnya dijadikan sebagai tolok ukur kemuliaan seseorang di sisi Allah SWT, sebagaimana firman Allah:

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling tinggi derajat ketaqwaannya. Taqwa oleh para ulama didefenisikan dengan “Melaksanakan segala perintah Allah dan meninggalkan segala larangan- nya”.

Dengan demikian, predikat taqwa telah mengantarkan seseorang kepada ketundukan dan kepatuhan tertinggi kepada Allah SWT. Taqwa pada ujung harus dibuktikan secara aktif dalam bentuk tindakan nyata sehari-hari.

Puasa sebenarnya adalah ibadah kuno yang telah disyari’atkan kepada umat manusia, jauh sebelum kedatangan Muhammad SAW. Ada yang mengatakan pensyari’atannya sejak Nabi Ibrahim AS dan ada yang berpendapat justru lebih jauh dari itu, yaitu sejak Nabi Adam AS.

Berbeda dengan ibadah Sholat, yang disyari’atkan justru setelah Nabi Muhammad SAW melaksanakan Isra’ Mi’raj. Kalaupun ada Sholat sebelum peristiwa Isra’ Mi’raj, itu bentuknya adalah zikir dan tahannuts (menyendiri dan merenung) yang dilakukan oleh junjungan umat, Nabi Muhammad SAW di Gua Hiro.

Berbeda dengan ibadah puasa, dimana bentuk dan tata caranya, dari dulu sampai sekarang adalah sama. Hal ini menunjukkan bahwa puasa adalah kebutuhan setiap umat manusia, dari dulu sampai sekarang dan bahkan sampai pada masa yang akan datang.

Hal ini juga dibuktikan dengan setiap orang yang akan diambil sampel darahnya, pasti terlebih dahulu disuruh berpuasa antara 9 sampai dengan 10 jam, sebab orang yang berpuasa darah- nya stabil, tidak naik turun, sehingga dapat diukur secara akurat.

Puasa selain dilaksanakan oleh umat manusia, juga dilaksanakan oleh mekhluq Tuhan lainnya seperti binatang. Sebagai contoh, induk ayam melaksanakan aktifitas puasa selama ayam tersebut mengerami telurnya.

Dengan puasanya itu, memu- dahkan baginya mengerami sekaligus menetaskan telurnya, sehingga dia mendapatkan anak keturunannya. Hal yang sama juga dilakukan oleh ular. Ular ketika hendak berganti kulit, supaya penampilan dan gerakannya lebih lincah, maka sang ularpun melaksanakan puasa. Tanpa puasa, maka ularpun tak dapat berganti kulit. Jika tak berganti kulit, maka penampilannya tidak cantik dan gerak- annyapun tidak lincah.

Binatang lainnya yang melaksanakan puasa adalah kepompong. Kepompong berasal dari ulat melata yang jelek lagi menjijikkan dan bahkan tidak disukai manusia, sebab kalau bersentuhan deng- annya, maka kulit akan terasa gatal.

Ulat melak- sanakan puasa, dengan menggulungkan dirinya kedalam daun, sehingga dia berubah jadi ke- pompong. Setelah jadi kepompong, sang ulatpun terus melaksanakan aktifitas puasanya, sehingga dia berubah menjadi kupu-kupu cantik yang disukai oleh semua orang, sebab badannya langsing, warnanya indah, gerakannya lincah, sedap dipan- dang mata.

Tidak sedikit orang yang berusaha menangkap dan mengawetkannya. Sebab indah dijadikan hiasan dan harganya pun menjadi mahal. Sang ulat yang tadinya menjijikkan, kini telah berubah menjadi makhluq baru bernama sutra. Sutra akhirnya disukai dan mahal harganya.

Orang yang melaksanakan ibadah puasapun pada dasarnya seperti itu. Jika puasanya benar- benar dilakukan sesuai ketentuan hukum Islam, maka pelakunya akan berubah, lahir menjadi manusia baru yang berbeda dengan sebelumnya.

Lahirnya sang manusia baru, dengan predikat muttaqien itu, sebelumnya telah mengendalikan kemauan fisiknya dengan menahan makan, minum dan melakukan hubungan suami istri pada siang hari, pikirannya juga dikendalikan dari pikiran-pikiran negative, akal bulus dan maksud jahat lainnya. Terakhir, jiwanya juga telah dikendalikan dan digembelng secara spiritual dan ruhani, sehingga dapat menangkal hal-hal negative yang akan terjadi pada dirinya.

Merayakan Idul Fitri

Apabila Idul Fitri sudah tiba, umat Islam diharuskan menyikapinya secara wajar dan sederhana sekalipun itu adalah hari kemenangan. Hari kemenangan, bukan berarti hari berhambur- hamburan, harus menghabiskan uang banyak, menyiapkan makanan yang banyak dan merayakannya secara berlebihan.

Hari kemenangan justru harus dibuktikan dengan penambahan iman kepada Allah SWT, sebagaimana hadis Nabi: Tidaklah hari raya itu bagi orang yang berbaju baru, akan tetapi hari raya itu adalah bagi orang yang imannya bertambah dan atau meningkat. Bertambah dan meningkatnya iman tersebut, dapat dibuktikan dengan hal-hal sebagai berikut:

Pertama, bermaaf-maafan antara satu sama lain dari segala noda dan dosa yang diperbuat selama ini, baik yang disengaja maupun tidak. Sehingga segala noda dan dosa yang berkaitan dengan sesama manusia dan barangkali belum terhapus dengan puasa, akan terhapus semuanya sehingga nilai kefitrian yang kita raih akan mencapai derajat kefitrian tertinggi.

Perlu diketahui, bahwa bermaaf- maafan hanya dapat menghapus dosa kecil dan bersifat nonmateri, sedangkan dosa besar dan yang bersifat materi tidak dapat dihapuskan dengan bermaaf-maafan atau bersalam-salaman. Penghapusannya hanya dapat dilakukan dengan taub- atan nashuha (tobat sejati) dan mengembalikan atau membayarkan materi tersebut.

Kedua, menjalin persaudaraan diantara sesama, barangkali selama ini ada hal-hal yang dilakukan yang menyebabkan putusnya hubungan silaturahim. Sehingga dengan demikian, tali yang kusut dan bahkan putus selama ini, akan terajut kembali secara apik dan mesra.

Silaturrahim berasal dari dua kata, yaitu silah dan rahim. Silah artinya adalah hubungan, sedangkan rahim artinya adalah tempat lahirnya bayi. Hal ini menunjukkan, bahwa hu- bungan antara umat manusia itu bukan hanya satu nasab, tetapi umat manusia berasal dari satu tempat lahir.

Hubungan satu tempat lahir inilah yang harus dipupuk dan dikembangkan, sehingga terjalin ukhuwah islamiyah yang sangat kukuh.

Ketiga, saling membantu dan menolong di antara sesama kaum muslim yang diwujudkan dalam bentuk pemberian zakat fitrah dan bahkan zakat maal yang telah ditunaikan sebelumnya.

Sehingga dengan demikian tidak ada seorangpun dari kalangan umat Islam yang menangis sedih pada masa Idul Fitri ini, sebagai akibat dari tidak dipu- nyainya makanan dan kebutuhan pokok lainnya pada hari raya itu. Membantu dan menolong sesama adalah perintah Allah SWT, sesuai dengan firmanNya:

"Bertolong-tolonganlah kamu dalam hal kebaikan dan taqwa dan jangan bertolong-tolongan dalam hal kejahatan dan permusuhan.”

Keempat, menyiapkan sedekah secara wajar, dengan memberikan infaq atau sadaqah berupa uang dan atau makanan kepada setiap yang bersilaturrahim kerumah kita, sehingga menambah pundi-pundi Tabungan amal shaleh kampung akhirat (taska) kita sebagai bekal dihari kemudian.

Harta, istri dan anak, semuanya akan ditinggalkan di dunia ini. Hanya amal shalehlah yang akan kita bawa ke liang kubur, untuk selanjutnya memasuki alam akhirat.


Kelima, menghindari perbuatan-perbuatan yang akan merusak derajat muttaqin dan mengotori kefitrian, yang telah kita raih selama bulan Ramadhan dengan melaksanakan ibadah puasa, yang menyebabkan diri tercoreng oleh noda dan dosa.

Bila hal ini terjadi, maka tidak menutup kemung- kinan kita akan terkena imbas sesuai kata pepatah, “Gara-gara nila setitik, rusak susu sebelanga.”

Dengan demikian, diharapkan kita menjadi orang yang muttaqin, baik di saat sedang berpuasa maupun sesudah berpuasa.

Keenam, mempertahankan derajat muttaqien, baik selama bulan Ramadhan maupun pasca ramadhan, yang dibuktikan dengan mempertahankan amaliah ramadhan, seperti rajin baca Al-Qur’an, rajin ke masjid, rajin sholat malam, mampu mengendalikan diri, peduli kepada fakir miskin, membayar zakat, banyak berinfaq/shadaqah, dan lain sebagainya. Wallahu a’lam. ***

________
Penulis: Dr. H. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A.
(Kepala Biro AUAK IAIN Metro)






 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Tanjung Pinang-Kepri | Indeks
Pedoman Media Siber | Kode Etik Internal Perusahaan Pers |Redaksi
Copyright 2012-2021 SULUH RIAU , All Rights Reserved