Kamis, 01 Oktober 2026 Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar | Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto | Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu | Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026 | Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum | Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
 
 
☰ Nasional
Kepala BPIP Luruskan Pernyataan soal Hubungan Pancasila dan Agama
Rabu, 12 Februari 2020 - 16:54:35 WIB

SULUHRIAU- Pernyataan Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Profesor Yudian Wahyudi soal hubungan Pancasila dan agama menyulut kontroversi. Kini Yudian memberikan penjelasan bahwa dia tidak bermaksud mempertentangkan Pancasila dan agama.

"Yang saya maksud adalah bahwa Pancasila sebagai konsensus tertingi bangsa Indonesia harus kita jaga sebaik mungkin," kata Yudian dilansir detikcom, Rabu (12/2/2020).

Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga ini menjelaskan Pancasila sendiri bersifat agamis. Nilai yang terkandung dalam tiap sila dengan mudah dapat ditemukan dalam kitab suci enam agama yang diakui Indonesia. Pancasila dan agama punya hubungan yang baik.

"Jadi hubungan antara Pancasila dan agama harus dikelola sebaik mungkin," kata Yudian.

Pernyataan Yudian kepada tim Blak-blakan detikcom menuai pro dan kontra, utamanya karena Yudian mengatakan musuh terbesar Pancasila adalah agama. Yudian meluruskan pernyataan ini. Maskudnya, musuh Pancasila adalah minoritas yang mengklaim dirinya sebagai mayoritas umat beragama.

"Namun, pada kenyataannya, Pancasila sering dihadap-hadapkan dengan agama oleh orang-orang tertentu yang memiliki pemahaman sempit dan ekstrem, padahal mereka itu minoritas (yang mengklaim mayoritas)," kata Yudian.

"Padahal Pancasila dan agama tidak bertentangan, bahkan saling mendukung," kata Yudian.

 Berikut adalah penjelasan lengkap dari Yudian Wahyudi, Rabu (12/2/2020):

Yang saya maksud adalah bahwa Pancasila sebagai konsensus tertinggi bangsa Indonesia harus kita jaga sebaik mungkin. Pancasila itu agamis karena ke 5 sila Pancasila dapat ditemukan dengan mudah dalam Kitab Suci ke enam agama yang diakui secara konstitusional oleh NKRI. Namun, pada kenyataannya, Pancasila sering dihadap-harapkan dengan agama oleh orang-orang tertentu yang memiliki pemahaman sempit dan ekstrim, padahal mereka itu minoritas (yang mengklaim mayoritas). Dalam konteks inilah, "agama" dapat menjadi musuh terbesar karena mayoritas, bahkan setiap orang, beragama, padahal Pancasila dan Agama tidak bertentangan, bahkan saling mendukung.

Dulu kira-kira, di Orde Baru itu banyak oknum yang mempolitisasi Pancasila sampai melewati batas kewenangannya. Oknum-oknum ini kemudian kalah oleh kaum reformis. Karena mereka dulu menggunakan Pancasila secara sepihak, maka dibalaslah oleh orang-orang yang dulu mereka tindas oleh kebijakan-kebijakan.

Karena kaum reformis ini kebanyakan adalah kaum agamawan, maka mereka melawan atau membalas kaum Orde Baru tadi dengan cara melawan juga ilmu dan pengalamannya. Di situlah maka Pancasila disingkirkan. Mereka membongkar kembali asas tunggal kemudian dikembalikan menjadi boleh memilih asas organisasi: Pancasila atau Islam. Nah, dari situlah sebenarnya Pancasila sudah dibunuh secara administratif kenegaraan, karena sudah tidak ada lagi orang yang memilih Pancasila.

Apa sih yang paling krusial dalam Pancasila yang kini hilang?

Jadi yang hilang itu menurut saya adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Nah, di situ terjadi pengembalian Ketuhanan itu kepada kelompok agama yang kemudian direduksi oleh kelompok minoritas yang mengklaim mayoritas.

Yang saya maksud begini, saya mohon maaf, muslim ini kan mayoritas. Nah, dari yang mayoritas itu sebenarnya yang mayoritas beneran adalah NU dan Muhammadiyah. Nah tapi ada kelompok-kelompok yang menginginkan beda dengan Muhammadiyah dan NU karena Muhammadiyah dan NU itu mendukung Pancasila. Mereka ini ingin melawan Pancasila tapi mengklaim diri sebagai mayoritas, sebagai muslim mayoritas maksudnya, padahal mereka itu kan minoritas.

Sederhana, misalnya, mohon maaf, kasus Ijtimak Ulama, mereka berusaha untuk mencari cawapres. Ulama mereka ini ulama minoritas atau mayoritas? Kan minoritas. Ini karena ulama di Indonesia berasal dari tiga lembaga resmi: Muhammadiyah, NU, dan MUI. Akhirnya, setelah terakhir, ah nggak usah ngajak politisi. Kalau bahasa guyonnya, politisi kok mau dikadalin.

Ini contoh karena ada orang minoritas yang mengklaim mayoritas. Padahal dia minoritas di kalangan mayoritas. Karena terhalang oleh mayoritas tadi, (maka) mereka mengambil tindakan-tindakan sendiri. Nah ini yang berbahaya.

Jadi saya ulang, kita ini kalau dicari musuh Pancasila yang paling besar itu apa sih? Kalau kita ya jujur, musuh Pancasila terbesar itu ya agama.

Kalau kelahi suku itu, halah, misalnya orang Papua kelahi sama orang Jogja, itu nggak jauh-jauh acaranya paling cuma di situ-situ doang ya.

Sumber: detik.com
Editor: Jandri






 
Berita Lainnya :
  • Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
  • Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
  • Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
  • Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
  • Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
    02 Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
    03 Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
    04 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
    05 Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
    06 Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
    07 Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
    08 Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
    09 RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
    10 Perkuat Koordinasi Kelembagaan, KPU dan Kejati Riau Teken Perjanjian Kerja Sama
    11 Petakan Isu Hukum Berbasis Data, Kanwil Kemenkum Riau Libatkan Lintas Instansi
    12 Kanwil Kemenkum Riau Bahas Strategi Implementasi Standar Layanan Bantuan Hukum
    13 63 Pejabat Pemko Pekanbaru Berganti Posisi, Berikut Nama dan Jabatannya
    14 Titik Api Nihil di Riau, Kabut Asap Kiriman Selimuti Sejumlah Daerah
    15 Polsek Tapung Tangkap Warga Tanjung Sawit dan Sita 31,41 Gram Sabu
    16 Siti Hasmah Istri Mantan PM Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100 Tahun, Malaysia Gelar Pemakaman Kenegaraan
    17 Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Pembentukan Regulasi Bersama Unri
    18 Perkuat Peran Posbankum, Kanwil Kemenkum Riau Beri Edukasi Hukum pada Masyarakat Tuah Negeri
    19 Aktifkan Posbankum Tuah Negeri, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Paralegal Lewat SIBAPAK
    20 Diikuti 50 Kepala Sekolah, PWI Kepulauan Meranti Taja Pelatihan dan Seminar Jurnalistik
    21 8 Tahun Terbengkalai, Pemprov Riau akan Urus Jembatan Penghubungkan Pasar Rumbio-Pulau Payung
    22 Polsek Tambang Tangkap Pelaku Pemerkosaan Remaja, Dua Pelaku Lain Masih Buron
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat