Rabu, 30 September 2026 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026 | Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum | Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti | Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi | Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai | RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
 
 
☰ Pendidikan
Bukan via Grup WhatsApp, Ini Tips Orangtua Pantau Anak di Sekolah ala Profesor SEVIMA
Rabu, 29 April 2026 - 20:58:10 WIB

SULUHRIAU- Jutaan orang tua Indonesia setiap hari membuka grup WhatsApp wali kelas dengan keyakinan penuh bahwa mereka sudah cukup terlibat dalam pendidikan anak. 


Seringkali materi pembelajaran dan informasi pendidikan juga disebarkan lewat WhatsApp. Keyakinan itu salah besar, dan ada bukti ilmiah internasional yang membuktikannya.


Peringatan itu disampaikan Prof. Imas Maesaroh, M.Lib., Ph.D., Pakar SEVIMA sekaligus Guru Besar Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya, dalam sesi talkshow Kolaborasi Orang Tua dan Sekolah untuk Anak Berprestasi di EduFun East, Tunjungan Plaza 3, Surabaya (29/4/2026). 


Talkshow ini digelar sebagai bagian dari rangkaian pameran pendidikan yang menghadirkan ribuan sekolah dan orang tua murid — dalam satu forum yang jarang terjadi di luar momen rapotan.


"WhatsApp itu tidak dirancang untuk pendidikan. Kita yang memaksanya jadi alat komunikasi sekolah-orang tua karena tidak ada yang lain," ujar Profesor Imas, Selasa (29/4/2026).


Prof. Imas, yang sehari-hari juga mengemban peran sebagai ibu dari tiga anak, menyatakan bahwa persoalan ini bukan soal niat baik orang tua maupun sekolah. 


Masalahnya terletak pada sistem komunikasi yang tidak pernah dirancang untuk menangkap masalah lebih awal. Di tengah momen Ujian Nasional berbasis Tes Potensi Akademik (TPA) dan seleksi masuk perguruan tinggi negeri melalui SNBP, keterlambatan informasi tentang perkembangan anak bisa berdampak fatal terhadap kesiapan akademik mereka.


Riset Internasional: Dampak Informasi Rutin


Profesor Imas memaparkan penelitian Profesor Peter Bergman yang dipublikasikan di Journal of Political Economy tahun 2021, yang membagi orang tua menjadi dua kelompok. 


Kelompok pertama mendapat informasi perkembangan anak dari guru secara rutin setiap dua minggu sekali, sedangkan kelompok kedua tidak mendapat informasi apapun. Hasilnya mencolok: anak dari kelompok pertama mengalami kenaikan kompetensi akademik yang signifikan dari peringkat 30 di kelas bisa naik ke peringkat 10 atau 15. 


Kelompok kedua tidak menunjukkan kenaikan apapun, baik dari sisi akademik, karakter, maupun skill.


Penelitian lanjutan oleh Bergman dan Chan tahun 2021 di West Virginia memperkuat temuan ini. Sekolah yang mengirimkan pesan kepada orang tua setiap kali anak tidak masuk kelas, tidak mengerjakan tugas, atau mendapat nilai rendah mencatat penurunan angka kegagalan mata pelajaran sebesar 27 persen, sementara tingkat kehadiran siswa naik 12 persen. 


Hasil serupa juga ditemukan di Chile oleh tim Berlinski pada 2024 — nilai matematika naik dan kehadiran membaik-membuktikan pola ini berlaku di negara berkembang seperti Indonesia.


"Komunikasi guru-orang tua yang rutin dan akurat secara langsung menggerakkan karakter, kompetensi, dan skill anak," kata Profesor Imas. Ia menekankan bahwa temuan ini bukan sekadar teori: tiga penelitian dari tiga negara berbeda dengan ribuan subjek menunjukkan konsistensi yang tidak bisa diabaikan.


Hal ini tidak bisa berlangsung di Whatsapp karena lima hal. Pertama, informasi di grup WhatsApp bersifat broadcast generik untuk seluruh orang tua- bukan laporan spesifik per anak. Kedua, pesan penting dari guru kerap tenggelam di antara stiker, ucapan ulang tahun, dan obrolan yang tidak relevan.


Ketiga, informasi sensitif seperti penurunan nilai atau pelanggaran disiplin tidak seharusnya diekspos di forum terbuka yang dapat diakses puluhan keluarga sekaligus. Keempat, WhatsApp tidak terhubung dengan data akademik sekolah — orang tua tidak dapat melihat nilai harian, rekap kehadiran, maupun status pengumpulan tugas secara langsung dari platform tersebut. 


Kelima, ratusan notifikasi yang masuk setiap hari justru menjadi beban kognitif bagi orang tua bekerja, bukan sumber informasi yang berguna.


"Orang tua merasa sudah terhubung dengan sekolah karena ada di grup. Padahal yang mereka dapat hanya kebisingan, bukan informasi yang benar-benar dibutuhkan tentang kondisi spesifik anak mereka," ujarnya.


Prof. Imas juga menyoroti sisi guru. Tidak realistis mengharapkan seorang guru mengirim pesan personal ke puluhan orang tua, per anak, setiap hari di tengah beban administratif dan mengajar yang sudah sangat tinggi. Sistem komunikasi pendidikan yang baik harus bekerja secara otomatis, bukan mengandalkan tenaga manual guru yang sudah terbatas.


Tips Belajar, Berbagi Pengetahuan, dan Informasi


Prof. Imas menetapkan empat informasi minimum yang berhak diterima orang tua secara rutin dari sekolah: kehadiran anak secara real-time, perkembangan nilai akademik per mata pelajaran, jadwal dan kehadiran dalam kegiatan ekstrakurikuler, serta identitas dan kontak pendamping saat anak mengikuti kegiatan di luar lingkungan sekolah.


Untuk menjawab kebutuhan tersebut, ia mendorong penggunaan platform terintegrasi yang mampu menyampaikan data kehadiran dan nilai secara real-time langsung kepada orang tua, tanpa menambah beban operasional guru.


"Berbagai aplikasi telah tersedia untuk hal ini, baik yang berfokus pada pembelajaran sinkronus atau tatap muka online seperti Zoom, maupun sistem akademik terintegrasi seperti SEVIMA PENA Parent Connect," ungkap Imas.


Dalam sistem akademik terintegrasi seperti SEVIMA PENA Parent Connect, data kehadiran, nilai akademik, dan aktivitas sekolah mengalir secara real-time langsung ke notifikasi orang tua. 


Orang tua dapat mengetahui apakah anak sudah masuk kelas, nilai yang baru diinput guru, hingga catatan kehadiran ekstrakurikuler — semua dalam satu platform, tanpa perlu menunggu rapotan atau mengandalkan grup WhatsApp yang penuh kebisingan.


Bagi orang tua dan pihak sekolah yang ingin memantau perilaku dan perkembangan anak, Prof. Imas menyarankan agar tidak menunggu akhir semester untuk mulai mengevaluasi kualitas komunikasi antara sekolah dan rumah. 


"Mulailah dengan satu pertanyaan sederhana kepada sekolah anak Bapak Ibu: seberapa cepat saya bisa tahu kalau anak saya tidak masuk kelas hari ini? Jawabannya akan langsung menunjukkan di mana mutu sekolah tersebut," pungkasnya  melalui rilis diterima. (***rls)


 




 
Berita Lainnya :
  • Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
  • Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
  • Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
  • Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
  • Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
    02 Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
    03 Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
    04 Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
    05 Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
    06 RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
    07 Perkuat Koordinasi Kelembagaan, KPU dan Kejati Riau Teken Perjanjian Kerja Sama
    08 Petakan Isu Hukum Berbasis Data, Kanwil Kemenkum Riau Libatkan Lintas Instansi
    09 Kanwil Kemenkum Riau Bahas Strategi Implementasi Standar Layanan Bantuan Hukum
    10 63 Pejabat Pemko Pekanbaru Berganti Posisi, Berikut Nama dan Jabatannya
    11 Titik Api Nihil di Riau, Kabut Asap Kiriman Selimuti Sejumlah Daerah
    12 Polsek Tapung Tangkap Warga Tanjung Sawit dan Sita 31,41 Gram Sabu
    13 Siti Hasmah Istri Mantan PM Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100 Tahun, Malaysia Gelar Pemakaman Kenegaraan
    14 Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Pembentukan Regulasi Bersama Unri
    15 Perkuat Peran Posbankum, Kanwil Kemenkum Riau Beri Edukasi Hukum pada Masyarakat Tuah Negeri
    16 Aktifkan Posbankum Tuah Negeri, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Paralegal Lewat SIBAPAK
    17 Diikuti 50 Kepala Sekolah, PWI Kepulauan Meranti Taja Pelatihan dan Seminar Jurnalistik
    18 8 Tahun Terbengkalai, Pemprov Riau akan Urus Jembatan Penghubungkan Pasar Rumbio-Pulau Payung
    19 Polsek Tambang Tangkap Pelaku Pemerkosaan Remaja, Dua Pelaku Lain Masih Buron
    20 Evaluasi Kebijakan Indikasi Geografis, Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Diskusi Strategis Nasional
    21 Catat Jadwalnya, Pasar Murah Pemprov Riau Digelar di 6 Kelurahan Pekanbaru
    22 Isu West Papua Diungkit di Sidang PBB ke- 81, Ketua BKSAP DPR RI Kecam PM Solomon
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat