SULUHRIAU - Banyak masyarakat terutama konsumen hingga pedagang yang mengeluhkan tentang kenaikan harga plastik saat ini.
Tak terkecuali di Pekanbaru, pedagang mengeluhkan, harga plastik naik hingga 50 persen. Ini akibat dampak perang di Timur Tengah yang membuat bahan baku sulit diperoleh.
Harga kantong plastik ukuran 1 kg yang sebelumnya sekitar Rp28.000 kini naik menjadi Rp50.000–Rp55.000 per pack. Kenaikan juga terjadi pada kertas nasi coklat dari Rp25.000 menjadi Rp33.000 per pack.
Harga kantong plastik jenis AA, PP, PF, dan HD meroket dari Rp28-30 ribu per kilogram menjadi Rp50 ribu di beberapa pedagang..Kantong plastik PE juga naik dari Rp10 ribu menjadi Rp15 ribu per kemasan. Banyak pedagang mengeluhkan harga plastik yang melonjak 50-100 persen.
Kondisi ini membuat pedagang mengeluhkan harga plastik yang melonjak 50-100 persen. Pedagangpun mulai membatasi penggunaan kantong plastik dan beralih ke alternatif seperti kardus bekas.
Keterbatasan bahan baku plastik Nafta
Sejumlah negara, termasuk Indonesia mengalami keterbatasan pasokan Nafta sehingga mengerek harga plastik.
Pada awal April 2026, Menteri Pedagangan RI Budi Santoso mengakui bahwa bahan baku plastik dari Timur Tengah memang mengalami hambatan.
"Kita sekarang mencari alternatif pengganti atau alternatif dari negara lain dan kita sudah melakukan, misalnya dari negara Afrika, India, dan Amerika," kata Budi di Kantor Staf Kepresidenan, kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, pada (1/4/2026).
Mengingat 60 persen kebutuhan nasional bergantung pada Timur Tengah, pemerintah sedang berusaha mencari alternatif lain.
Meskipun langkah pengalihan ini telah dilakukan, Budi mengakui bahwa proses perpindahan sumber pasokan tersebut membutuhkan waktu karena terjadi secara mendadak di tengah situasi perang.
Blokade Selat Hormuz serta peningkatan eskalasi perang antara Iran dan Israel membuat pasokan Nafta ke Asia Tenggara terganggu.
Apa itu Nafta?
Sebagai informasi, Nafta (Naphtha) adalah cairan hidrokarbon yang didapat dari proses penyulingan minyak mentah.
Jika bensin digunakan untuk menggerakkan mesin mobil, maka Nafta adalah "bahan bakar" utama bagi industri petrokimia.
Tanpa Nafta, hampir seluruh rantai produksi barang modern (mulai dari bodi ponsel hingga kemasan makanan) bakal terganggu.
Perlu beberapa proses tertentu terkait pengolahan plastik. Minyak mentah dipanaskan di kilang. Nafta adalah salah satu komponen yang keluar pada suhu tertentu.
Selanjutnya adalah proses Steam Cracking. Ini adalah tahap paling krusial.
Nafta dipanaskan dengan uap air pada suhu sangat tinggi (di atas 800 derajat Celsius). Proses ini "memecah" molekul hidrokarbon besar menjadi molekul yang lebih kecil.
Hasil dari pemecahan tersebut menghasilkan gas seperti Etilena, Propilena, dan Butadiena. Gas-gas inilah yang menjadi blok bangunan dasar plastik.
Molekul-molekul kecil (monomer) tadi digabungkan menjadi rantai panjang yang disebut Polimer (dalam bentuk biji plastik atau resin).
Nafta merupakan sumber bahan baku utama dalam produksi beberapa jenis plastik yang mencakup HDPE (High-Density Polyethylene), LDPE (Low-Density Polyethylene), PP (Polypropylene), dan PET (Polyethylene Terephthalate).
Editor: Khairul
Komentar Anda :