Minggu, 16 Agustus 2026 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan | Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan | Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal | PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA | Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh | Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
 
 
☰ Ustadz Menjawab
Bagaimana Hukum Beribadah Ketika Haidh yang Terputus
Jumat, 30 Agustus 2024 - 09:18:23 WIB
Hj. Azhariah, Lc. MA

HAIDH adalah darah yang keluar dari rahim wanita secara alami setiap bulannya, biasanya berlangsung antara 6 hingga 7 hari, tetapi bisa lebih atau kurang, tergantung pada wanita tersebut.


 


Pertanyaan

Assalamualaikum ustadzah mau bertanya, saya kan haid 4 hari, habis itu berhenti sehari semalam, esoknya haid lagi, bagaimana cara nya tu ustazah? Apakah itu juga haid?"

Jawab

Dalam Islam, permasalahan haid yang terputus-putus memerlukan pemahaman khusus karena mempengaruhi pelaksanaan ibadah seperti sholat, puasa, dan lainnya. Berikut adalah beberapa poin terkait hukum Islam mengenai haid yang terputus-putus:

1. Penentuan Masa Haid dan Istihadhah

Haid adalah darah yang keluar dari rahim wanita secara alami setiap bulannya, biasanya berlangsung antara 6 hingga 7 hari, tetapi bisa lebih atau kurang, tergantung pada wanita tersebut. Jika darah yang keluar hanya berlangsung selama beberapa hari, berhenti, dan kemudian keluar lagi, ini bisa menjadi tanda haid yang terputus-putus.

Jika darah keluar dalam rentang waktu yang masih dianggap masa haid (maksimal 15 hari), maka itu masih dianggap haid, dan wanita tidak perlu sholat atau puasa selama masa ini.

Namun, jika darah keluar setelah masa haid maksimal (15 hari) atau ada jeda yang signifikan, maka darah yang keluar bisa dianggap sebagai istihadhah (pendarahan yang bukan haid). Wanita yang mengalami istihadhah tetap wajib melaksanakan sholat dan puasa, tetapi dianjurkan untuk berwudhu setiap kali sebelum sholat.

2. Batas Waktu Haid

Dalam fiqh, para ulama umumnya sepakat bahwa masa haid maksimal adalah 15 hari, dan masa minimalnya adalah satu hari satu malam. Jika darah keluar lebih dari 15 hari, maka darah yang keluar setelah 15 hari dianggap sebagai istihadhah.
Jika darah berhenti selama masa haid, misalnya keluar darah selama dua hari, berhenti satu hari, kemudian keluar lagi, selama masih dalam rentang 15 hari, semua hari tersebut dianggap sebagai masa haid.

3. Panduan Praktis

Wanita yang mengalami haid terputus-putus dianjurkan untuk mencatat pola haidnya agar lebih mudah menentukan apakah darah yang keluar merupakan haid atau istihadhah.

Jika ragu-ragu, wanita tersebut bisa mengikuti kebiasaan haid sebelumnya (haid yang normal) atau berkonsultasi dengan ahli fikih atau ustadz untuk mendapatkan penjelasan yang lebih detail sesuai dengan mazhab yang diikuti.

Berikut adalah tabel panduan praktis mengenai haid yang terputus-putus menurut syariat Islam:
Situasi

Status Darah

Darah keluar selama 1-15 hari
Haid, Tidak boleh sholat atau puasa.- Setelah darah berhenti, mandi wajib (mandi besar).

Darah berhenti sementara dalam masa haid (misal, hari ke-2 berhenti, hari ke-4 keluar lagi) Haid,
Tetap dianggap haid selama masih dalam periode 15 hari, tidak perlu sholat atau puasa.

Darah keluar lebih dari 15 hari
Istihadhah. Darah setelah 15 hari dianggap istihadhah. Harus sholat dan puasa seperti biasa. Dianjurkan wudhu setiap kali sebelum sholat.

Darah berhenti lebih dari 24 jam dalam masa haidh

Selama masih dalam 15 hari, tetap dianggap haid.- Tidak perlu sholat atau puasa.

Darah keluar kembali setelah bersih dan sudah mandi wajib
Istihadhah.

Jika sudah mandi wajib dan darah keluar kembali setelah 15 hari, dianggap istihadhah Sholat dan puasa harus tetap dilakukan

Para ulama berbeda pendapat mengenai haid yang terputus, terutama dalam hal bagaimana mereka menentukan status darah yang terputus dan tindakan yang harus diambil. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing mazhab:

Mazhab Hanafi

Pandangan: Dalam mazhab Hanafi, jika darah haid berhenti sebelum 10 hari (masa maksimal haid menurut mazhab ini) dan kemudian kembali keluar dalam waktu 10 hari, maka seluruh periode tersebut dianggap sebagai haid. Jika darah berhenti selama 15 hari atau lebih, darah yang keluar setelahnya dianggap sebagai haid baru.

Tindakan: Wanita tersebut tidak perlu mandi wajib setiap kali darah berhenti selama masih dalam periode 10 hari. Namun, jika darah berhenti lebih dari 15 hari, ia wajib mandi dan memulai siklus baru.

Mazhab Maliki

Pandangan Mazhab Maliki cenderung lebih ketat. Mereka berpendapat bahwa jika darah berhenti selama satu hari atau lebih dalam masa haid dan kemudian keluar lagi, itu tetap dianggap sebagai haid selama darah kembali keluar dalam waktu 15 hari. Namun, jika darah berhenti selama lebih dari 15 hari, maka darah yang keluar setelahnya dianggap sebagai istihadhah.

Tindakan

Dalam hal ini, wanita harus tetap menganggap seluruh periode tersebut sebagai masa haid dan tidak perlu mandi sampai darah benar-benar berhenti.

Mazhab Syafi'i

Pandangan mahab syafi'i, darah yang keluar dalam periode 15 hari tetap dianggap sebagai haid, walaupun ada jeda di antaranya. Jika darah berhenti dalam masa haid (misalnya, berhenti beberapa hari dan keluar lagi), maka seluruh periode tersebut dianggap sebagai haid, asalkan total durasi haid tidak lebih dari 15 hari.

Tindakan, Wanita tidak perlu mandi wajib jika darah berhenti sementara selama masih dalam masa haid (15 hari). Jika darah berhenti setelah 15 hari, baru dianggap suci dan harus mandi.

Mazhab Hanbali

Pandangan, mazhab Hanbali, jika darah haid terputus-putus dalam masa 15 hari, seluruh darah tersebut dianggap sebagai haid. Namun, jika darah berhenti selama lebih dari satu hari dan tidak ada darah yang keluar lagi hingga 15 hari, maka darah yang keluar setelahnya dianggap sebagai istihadhah.

Tindakan, Sama seperti mazhab lainnya, jika darah terputus-putus tetapi masih dalam 15 hari, seluruh periode tersebut dianggap haid dan tidak perlu mandi sampai darah berhenti sepenuhnya.

Demikianlah pandangan empat mazhab dalam Islam mengenai haid yang terputus, secara umum, keempat mazhab sepakat bahwa darah yang keluar dalam periode maksimal haid (10-15 hari, tergantung mazhab) tetap dianggap sebagai haid, meskipun ada jeda atau terputus-putus.

Namun, mereka berbeda dalam detail tertentu mengenai bagaimana cara menanganinya. Wanita disarankan untuk mengikuti panduan mazhab yang diikuti atau berkonsultasi dengan ulama untuk mendapatkan panduan yang lebih tepat sesuai dengan kondisinya. Wallahua'lam bissawab. ***
______
Penulis adalah: Hj. Azhariah, Lc. MA
Penyuluh Agama Islam Kemenag Kota Pekanbaru.




 
Berita Lainnya :
  • Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
  • Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
  • Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
  • PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
  • Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    02 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    03 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    04 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    05 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    06 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    07 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    08 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    09 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    10 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    11 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    12 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    13 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    14 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    15 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
    16 September 2026, 2,4 Juta Warga Singapura Terima Bantuan Tunai hingga Rp8,3 Juta
    17 Perdana Dilakukan di Pekanbaru, Wali Kota Ajak Kepala OPD Menginap Bersama Retreat RT-RW
    18 Kemenkum Riau Dorong Civitas Akademika UIR Lindungi Inovasi Melalui Paten
    19 Remaja 18 Tahun Terjun ke Sungai Siak di Bawah Jebatan Leighton, Begini Detik-detik Penyelamatan Polisi
    20 Dari Istana ke Desa Gobah, Prabowo Apresiasi 110 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau
    21 Wujudkan WBBM 2026, Kemenkum Riau Benahi Data dan Inovasi Layanan
    22 Sembunyikan Sabu di Kaleng Rokok, Oknum Mahasiswa dan Kurir di Kampar Diciduk Polisi
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat