ISLAM menganjurkan Ummatnya untuk bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya. Harta yang paling baik berasal dari jerih payah sendiri.
Assalamualaikum Warohmatullahi wabarokatuh, mau bertanya ustadz; Bagaimana etos kerja menurut pandangan Islam?
Jawaban;
Alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh...Baiklah; Dalam surat Al-Jumu’ah ayat 10, Allah telah memerintahkan atau mewajibkan manusia di muka bumi ini untuk bekerja.
”Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung.”(QS. Al-Jumu’ah: 10).
Selain itu, ada beberapa catatan penting terkait dengan bekerja,
Pertama, bekerja membuat kita terhindar dari azab neraka. Sebagaimana hadits nabi “Pada suatu saat, Saad bin Muadz Al-Anshari berkisah bahwa ketika Nabi Muhammad SAW baru kembali dari Perang Tabuk, beliau melihat tangan Sa’ad yang melepuh, kulitnya gosong kehitam-hitaman karena diterpa sengatan matahari.
Rasulullah bertanya, ‘Kenapa tanganmu?’ Saad menjawab, ‘Karena aku mengolah tanah dengan cangkul ini untuk mencari nafkah keluarga yang menjadi tanggunganku.
”Kemudian Rasulullah SAW mengambil tangan Saad dan menciumnya seraya berkata, ‘Inilah tangan yang tidak akan pernah disentuh oleh api neraka". (HR. Tabrani).
Kedua, harta yang paling baik berasal dari jerih payah sendiri. Harta bisa saja kita dapatkan dari orang tua, kerabat, atau bahkan warisan. Namun sesungguhnya harta yang paling baik justru bersumber dari jerih payah sendiri.
Sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhari dalam Sahih-nya, dari al-Miqdam r.a, Rasulullah Saw bersabda; "Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari hasil usahanya sendiri. Dan sesungguhnya Nabi Daud As memakan panganan dari jerih payahnya sendiri.”(HR. Bukhari No: 2072).
Ketiga, memberi nafkah adalah sedekah Imam An-Nasai dalam Sunan-nya meriwayatkan hadis dari jalur Al-Miqdam bin Ma'di Karib, sesungguhnya ia mendengar Rasulullah Saw bersabda; "Harta yang engkau keluarkan sebagai makanan untukmu bernilai sedekah bagimu.
Makanan yang kau beri pada anakmu dinilai sedekah bagimu. Begitu pula makanan yang kau beri pada istrimu, itu pun bernilai sedekah bagimu. Juga makanan yang kau beri pada pelayanmu, itu juga termasuk sedekah bagimu.”(HR Nasai No: 9141).
Islam juga memberi kebebasan dalam memilih pekerjaan yang sesuai dengan kecenderungan dan kemampuan setiap orang.
Namun demikian, Islam mengatur batasan-batasan, meletakkan prinsip-prinsip dan menetapkan nilai-nilai yang harus dijaga oleh seorang Muslim, agar kemudian aktifitas bekerjanya benar-benar dipandang oleh Allah sebagai kegiatan ibadah yang memberi keuntungan berlipat di dunia dan di akhirat.
Selain itu, tidak semua pekerjaan mulia di mata Allah. Pekerjaan yang diridhai oleh Allah adalah pekerjaan yang dilandasi oleh adab dan etika tertentu sesuai dengan standar etos kerja, yakni:
1. Diniatkan ikhlas karena Allah SWT (Lillahi Ta’ala) Bekerja tidak melulu soal mencari kegiatan, uang dan keuntungan tapi lebih daripada itu, adalah kewajiban seorang manusia kepada Allah SWT untuk bekerja, untuk mencari nafkah, serta untuk menunaikan kewajiban-kewajiban Islam yang lainnya.
Maka agar bernilai ibadah, bekerja harus ikhlas lillahi ta’ala. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Annisa: 125
“Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.”
2. Bekerja dengan tekun dan sungguh-sungguh (itqan) Esensi dari bekerja adalah bagaimana kita menjalankan hak dan kewajiban dengan penuh semangat dan tekun bekerja. Sebuah hadits diriwayatkan oleh Aisyah ra mengenai hal ini, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Beramallah untuk duniamu seakan-akan engkau akan hidup selamanya, dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan engkau akan mati esok hari”.
3. Mengutamakan kejujuran dan amanah dalam bekerja Setiap pekerjaan yang kita lakukan pastinya butuh pertanggungjawaban baik dihadapan Allah SWT maupun di hadapan manusia.
Oleh karena itu menjaga keridhan Allah dan kepercayaan konsumen atau klien sangatlah penting karena kesuksesan kita juga bergantung dari kepuasan dan kepercayaan mereka dengan cara menjadi pekerja yang jujur dan amanah.
Dalam hal tanggung jawab dan amanah ada dua prinsip yang penting yaitu, pekerja harus baik dan profesional dan atasan harus memiliki kesalehan sosial dan memperhatikan para pekerjanya.
Dalam sebuah hadits nabi bersabda “Sesungguhnya Allah mencintai seorang diantara ka-lian yang jika bekerja, maka ia bekerja dengan baik.”(HR Baihaq) Atasan tidak boleh berlaku zalim terhadap para pekerja. Berilah upah sebelum keringat mengering.
Dilaporkan oleh Abu Dzarr bahwa Rasulullah SAW menyuruh para sahabatnya mengenai para budak, sebagai berikut: "Mereka adalah saudara-saudara kalian.
Allah telah menempatkan mereka di bawah kekuasaanmu, berilah mereka makan seperti makananmu, berpakaian seperti pakaianmu, dan janganlah mereka kalian bebani dengan pekerjaan yang mereka tidak mampu mengerjakannya. Jika kalian menyuruhnya bekerja berat, maka bantulah dia.”(Bukhari dan Muslim).
4.Tetap memegang teguh prinsip-prinsip syariah Selain menjaga etika atau akhlak, seorang Muslim juga wajib untuk tetap memegang teguh prinsip-prinsip syariah dalam pekerjaan yang digelutinya.
Semakin pesatnya kemajuan jaman, prinsip-prinsip syarah dalam bekerja memang akan semakin sulit karena berkaitan dengan kemajuan, keuntungan dan penghasilan lebih dari pekerjaan yang kita lakukan, namun hal ini menjadi tantangan bagi iman seorang pekerja supaya senantiasa meningkatkan keimanan dan mempertahankan kehalalan suatu pekerjaan serta meninggalkan hal-hal yang haram.
Dengan memegng teguh prinsip-prinsip syariah, kita akan terhindar dari dosa dan harta yang kita dapatkan akan lebih berkah dan mendapatkan ridha Allah tentunya.
___________ Penulis: Amrunnas, S.Sos (Penyuluh Agama Islam Kecamatan Rumbai Timur Kota Pekanbaru)