Kamis, 01 Oktober 2026 Prabowo Lantik Suyudi Jadi Kapolri, Listyo Sigit Bergeser ke KSP, Ini Daftar Lengkap Perubahan Posisi Pejabat | Pimpin Upacara Kesaktian Pancasila, Kapolres Kampar Tegaskan Pancasila Kompas Pengabdian | Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri | Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar | Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto | Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
 
 
☰ Hukrim
Ancaman ke Artidjo, dari Penembak Jitu hingga Santet
Jumat, 25 Mei 2018 - 14:23:57 WIB
Artidjo Alkostar jumpa pers soal pensiun dirinya (dtc)

SULUHRIAU- Artidjo Alkostar mengakui kerap mendapat ancaman selama menjadi hakim agung. Namun hal itu tidak membuatnya takut. Bahkan ancaman itu justru dinilai salah alamat.

"Kalau mengancam saya itu salah alamat. Pertama, saya sejak menjadi advokat yang tidak punya kekuasaan saja tidak pernah takut gitu, tidak pernah," ujarnya di Media Center Mahkamah Agung (MA), Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Jumat (25/5/2018).

Artidjo menceritakan, pada 1992, dirinya pernah diancam akan dibunuh pada malam hari oleh 'ninja' di Dili, Timor Timur. Namun teror itu tidak terjadi.

"Pernah mau dibunuh saya jam 12.00 malam. Tapi Allah SWT melindungi saya yang didatangi oleh 'ninja' itu, 'ninja' tahulah di Timtim itu siapa 'ninja'. Itu asisten saya. Keliru. Bukan saya kebal, bukan. Tapi dia keliru. Allah SWT melindungi saya," katanya.

Darah Madura yang tertanam pada Artidjo membuatnya tidak takut pada apa pun. Artidjo juga bercerita pernah diteror oleh penembak misterius. Ketika itu, Artidjo diberi tahu ada penembak misterius yang mengintai dirinya.

"Waktu saya membela kasus-kasus pembunuhan misterius dulu. Saya pernah diancam, 'Artidjo kamu jangan sok pahlawan, penembak misterius datang ke tempat tidur kamu,' katanya. Tentu ini saya hiraukan," kenang Artidjo.
Baca juga: Pensiun, Artidjo Alkostar akan Angon Kambing di Desanya

"Jadi memang background saya tidak memungkinkan saya diancam. Sejak kecil saya sudah menjadi joki karapan sapi, berkelahi gulat, dan silat. Jadi tidak memungkinkan. Darah Madura saya tidak memungkinkan untuk menjadi takut sama orang," sambungnya.

Bentuk teror yang dialami Artidjo bukan hanya ancaman secara langsung. Dia juga pernah diserang lewat ilmu santet, tapi gagal.

"Di daerah saya, orang tua saya lahir di Sumenep di Marengan. Jadi kalau orang akan menyantet saya itu salah alamat juga. Katanya saya pernah mau disantet. Dipake foto saya katakan, 'Wah ini mesti kelas taman kanak-kanak.' Ini saya kira hal-hal yang berbagai hal yang tidak mungkin akan mempengaruhi saya itu ndak pernah. Jadi, sejak jadi advokat, saya sudah kenyang memakan ancaman itu," kata Artidjo.

Sudah Pensiun

Selama 18 tahun Artidjo Alkostar mengabdi sebagai hakim agung di Mahkamah Agung. Dari belasan ribu perkara yang ditangani, kasus mantan presiden Soeharto jadi salah satu yang paling diingat.

"Waktu awal saya jadi hakim agung tahun 2000-an, saya pernah tangani perkara Presiden Soeharto. Waktu itu presiden sakit lalu ketua majelisnya, Pak Syafiuddin Kartasasmita, yang ditembak, saya menjadi salah satu anggotanya," kata Artidjo bicara dengan wartawan di Mahkamah Agung, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Jumat (25/5/2018).

"Waktu itu dianukan, karena supaya berkas dikembalikan tapi keputusan di majelis, Soeharto harus tetap diadili sampai sembuh dengan biaya negara. Jadi ada alasan argumentasi yuridisnya," ujarnya.

Saat itu, menurut Artidjo, masyarakat menyambut baik kelanjutan perkara Soeharto. Selain kasus Soeharto, Artidjo mengenang perkara lain yang ditanganinya, salah satunya gugatan pembubaran Partai Golkar.

Dia menilai perkara pembubaran Golkar adalah kasus yang kecil. "Saya kira banyak (kasus) lainnya karena saya anggota juga tentang pembubaran Golkar dulu juga yang lain-lain. Presiden masalah aja saya adili, apalagi presiden partai. Nggak ada masalah bagi saya, tidak ada kendala apa pun. Jadi selama saya tangani perkara Soeharto, perkara lain kecil aja buat saya," ujarnya.

Kini Artidjo sudah pensiun. Harapannya kepada hakim agung penggantinya adalah tekun menangani perkara.

"Harapan pengganti saya lebih baik dari saya. Pertama, ketekunan menangani perkara; kedua, harus pulang larut malam karena itu harus menangani perpanjang tahanan tiap hari. Itu tahanan saya itu ratusan. Karena datangnya itu kadang sudah sore," ujarnya.

Artidjo menjelaskan tumpukan perkara di Mahkamah Agung saat ini sudah mulai berkurang setelah purnatugas. Dari 10 ribu berkas perkara, sekarang tersisa tak sampai 2 ribu perkara.

"Terakhir laporannya sisa, kalau dulu masih 10 ribu lebih, kalau sekarang 1.000-an, tidak sampai 2.000. Ini hakim kita kerahkan untuk selesaikan itu agar pencari keadilan tidak terlalu lama nunggu," tuturnya.

Setiap menangani perkara, menurutnya, hakim kerap pulang larut malam. Bagi Artidjo, kerja keras hakim merupakan sebuah pengorbanan agar kasus cepat selesai.

"Jadi kadang hakim agung pulang bawa koper itu isinya berkas. Kalau saya pulang bisa larut malam lagi, karena ada tahanan yang seharusnya cepat diputus. Jadi ini saya kira suatu pengorbanan daripada hakim pidana yang saya harap bisa menuntaskan semaksimal mungkin, jadi dikhidmatkan untuk keadilan, jadi itu sisa perkara," paparnya.

Sumber: detik.com | Editor: Jandri




 
Berita Lainnya :
  • Prabowo Lantik Suyudi Jadi Kapolri, Listyo Sigit Bergeser ke KSP, Ini Daftar Lengkap Perubahan Posisi Pejabat
  • Pimpin Upacara Kesaktian Pancasila, Kapolres Kampar Tegaskan Pancasila Kompas Pengabdian
  • Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri
  • Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
  • Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Prabowo Lantik Suyudi Jadi Kapolri, Listyo Sigit Bergeser ke KSP, Ini Daftar Lengkap Perubahan Posisi Pejabat
    02 Pimpin Upacara Kesaktian Pancasila, Kapolres Kampar Tegaskan Pancasila Kompas Pengabdian
    03 Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri
    04 Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
    05 Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
    06 Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
    07 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
    08 Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
    09 Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
    10 Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
    11 Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
    12 RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
    13 Perkuat Koordinasi Kelembagaan, KPU dan Kejati Riau Teken Perjanjian Kerja Sama
    14 Petakan Isu Hukum Berbasis Data, Kanwil Kemenkum Riau Libatkan Lintas Instansi
    15 Kanwil Kemenkum Riau Bahas Strategi Implementasi Standar Layanan Bantuan Hukum
    16 63 Pejabat Pemko Pekanbaru Berganti Posisi, Berikut Nama dan Jabatannya
    17 Titik Api Nihil di Riau, Kabut Asap Kiriman Selimuti Sejumlah Daerah
    18 Polsek Tapung Tangkap Warga Tanjung Sawit dan Sita 31,41 Gram Sabu
    19 Siti Hasmah Istri Mantan PM Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100 Tahun, Malaysia Gelar Pemakaman Kenegaraan
    20 Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Pembentukan Regulasi Bersama Unri
    21 Perkuat Peran Posbankum, Kanwil Kemenkum Riau Beri Edukasi Hukum pada Masyarakat Tuah Negeri
    22 Aktifkan Posbankum Tuah Negeri, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Paralegal Lewat SIBAPAK
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat