SULUHRIAU, Pekanbaru— Pagar besi yang menutup akses masuk, deretan mesin ATM yang mulai tak berfungsi, hingga tenant yang sibuk mengemasi barang menjadi penanda berakhirnya aktivitas Plaza Citra Pekanbaru.
Pusat perbelanjaan yang menyimpan banyak kenangan bagi masyarakat itu mulai menutup lembaran perjalanannya pada Senin (12/10/2026), sebagaimana informasi yang disampaikan dalam laporan ini.
Bagi sebagian warga, penutupan tersebut bukan sekadar berhentinya kegiatan perdagangan di sebuah gedung. Ada kenangan tentang masa muda, kebersamaan bersama keluarga, hingga pengalaman menikmati hiburan yang pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kota Pekanbaru.
Plaza Citra selama ini dikenal sebagai salah satu pusat perbelanjaan lama di Pekanbaru. Letaknya yang strategis membuat tempat tersebut mudah dijangkau dan pernah menjadi pilihan masyarakat untuk berbelanja, bertemu teman, maupun menghabiskan waktu luang.
Namun, suasana yang dahulu ramai kini berganti dengan pemandangan yang jauh berbeda. Aktivitas pengunjung tak lagi terlihat seperti biasanya, sementara sejumlah bagian gedung mulai kehilangan denyut keramaiannya.
Bagi warga yang pernah menjadikan Plaza Citra sebagai tempat menghabiskan waktu, perubahan ini menghadirkan perasaan kehilangan tersendiri.
“Sedih juga rasanya. Kita banyak kenangan di sini, termasuk nonton bioskopnya,” ujar seorang warga Pekanbaru yang mengenang pengalamannya di pusat perbelanjaan tersebut.
Pantauan di lokasi memperlihatkan pagar-pagar besi telah menutup akses masuk ke area plaza. Jalur kendaraan di sisi kiri gedung yang sebelumnya digunakan pengunjung untuk masuk dengan mobil maupun sepeda motor juga tidak lagi menunjukkan aktivitas seperti hari-hari biasa.
Dari bagian depan, suasana gedung terlihat lengang. Tidak tampak keramaian pengunjung yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan pusat perbelanjaan tersebut.
Pos penjagaan tiket di sisi kanan bagian depan gedung juga terlihat kosong. Peralatan yang biasanya mendukung aktivitas keluar masuk kendaraan tidak lagi tampak seperti sebelumnya.
Perubahan serupa terlihat di area anjungan tunai mandiri (ATM). Sejumlah mesin ATM sudah tidak beroperasi dan tampak kosong. Hanya satu mesin yang masih terlihat beroperasi di lokasi tersebut.
Pemandangan itu memperlihatkan bahwa aktivitas di Plaza Citra telah banyak berkurang. Area yang sebelumnya menjadi tempat masyarakat bertransaksi dan berbelanja kini tampak sunyi.
Tenant Mulai Berkemas, Bukan Lagi Melayani Pembeli
Meski aktivitas perdagangan telah berhenti, beberapa petugas masih terlihat berjaga di pos yang berada di sisi kanan gedung.
Di sisi lain, sejumlah tenant tampaknya masih menjalani tahap akhir sebelum benar-benar meninggalkan lokasi. Namun, kegiatan yang berlangsung bukan lagi melayani pembeli, melainkan membereskan dan mengepak barang untuk dipindahkan.
Seorang karyawan tenant membenarkan bahwa kedatangannya ke lokasi bukan untuk kembali berjualan seperti biasa.
“Kami datang untuk packing saja, Bang, bukan jualan seperti biasa. Karena sudah tutup,” katanya singkat.
Karyawan tersebut enggan memberikan keterangan lebih jauh mengenai proses penutupan maupun rencana selanjutnya dari tenant tempatnya bekerja.
Aktivitas pengemasan barang itu menjadi salah satu gambaran nyata perubahan fungsi Plaza Citra. Jika sebelumnya area tersebut menjadi tempat transaksi antara pedagang dan pembeli, kini sebagian kegiatan yang tersisa justru berkaitan dengan pemindahan barang.
Ketika Pusat Keramaian Menjadi Bagian dari Kenangan Kota
Bagi sebuah kota yang terus berkembang, pusat perbelanjaan bukan hanya ruang ekonomi. Tempat seperti Plaza Citra juga dapat menjadi ruang pertemuan sosial, tempat keluarga menghabiskan waktu bersama, serta bagian dari ingatan kolektif masyarakat.
Pengalaman menonton bioskop, berjalan-jalan bersama teman, atau sekadar berkunjung pada akhir pekan menjadi cerita yang melekat bagi sebagian warga yang pernah merasakan masa ramainya pusat perbelanjaan tersebut.
Karena itu, penutupan Plaza Citra memiliki makna yang lebih luas bagi mereka yang tumbuh bersama perubahan wajah Kota Pekanbaru. Gedung yang kini tampak lengang itu pernah menjadi bagian dari rutinitas masyarakat pada masanya.
Meski aktivitasnya mulai berhenti, kenangan yang tersimpan di dalamnya tidak serta-merta hilang. Bagi sebagian warga, Plaza Citra akan tetap menjadi bagian dari perjalanan hidup dan perkembangan kota.
Kini, pagar yang tertutup dan tenant yang mulai berkemas menjadi gambaran akhir sebuah babak. Di balik suasana sepi tersebut, tersimpan cerita tentang tempat yang pernah mempertemukan banyak orang dan menjadi saksi perubahan gaya hidup masyarakat Pekanbaru. (sr5, src)