SULUHRIAU, Kampar— Masjid Tuo Bersejarah Alkubro di Kecamatan Kampa, Kabupaten Kampar, Riau, akan menjadi ruang perjumpaan ratusan pelajar pada Jumat (18/9/2026) pagi.
Sekitar 400 siswa dari berbagai jenjang pendidikan dijadwalkan hadir untuk mengikuti pembukaan Kajian Remaja Islam (KRIS).
Peserta berasal dari sejumlah tingkatan pendidikan, mulai dari taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), SMP/MTs hingga SMA/MA.
Kehadiran mereka tidak sekadar meramaikan kegiatan, tetapi menjadi bagian dari upaya membangun ruang pembinaan keagamaan bagi generasi muda.
Masjid Alkubro dipilih sebagai lokasi kegiatan bukan tanpa alasan. Masjid bersejarah tersebut dikenal sebagai salah satu masjid cagar budaya yang memiliki keterkaitan dengan perjalanan sejarah Kerajaan Kampar.
Di tempat yang menyimpan jejak sejarah dan nilai keislaman itu, para pelajar akan mengikuti rangkaian kegiatan yang diarahkan untuk memperkuat pemahaman agama sekaligus membentuk karakter dalam kehidupan sehari-hari.
Kepala Bagian Tata Usaha Kementerian Agama Provinsi Riau, Dr. H. Rahmat Suhadi, MA, dijadwalkan memandu para peserta dalam kegiatan munajat.
Melalui munajat tersebut, para pelajar diajak memanjatkan doa agar diberi kemudahan dalam menuntut ilmu, keteguhan dalam menjaga akhlak, serta kemampuan membangun hubungan sosial yang baik di tengah lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat.
Kegiatan ini juga membawa pesan bahwa pendidikan generasi muda tidak berhenti di ruang kelas. Pengetahuan, akhlak dan kemampuan bersosialisasi menjadi bagian yang saling melengkapi dalam membentuk pribadi yang matang.
Masjid pun dihadirkan bukan semata sebagai tempat ibadah. Dalam kegiatan tersebut, Masjid Alkubro menjadi ruang belajar, bersilaturahmi, berdoa sekaligus mempertemukan pelajar dengan nilai-nilai keagamaan dalam suasana yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Di tengah perubahan zaman yang berlangsung cepat, ruang-ruang pembinaan seperti ini memiliki arti tersendiri.
Generasi muda membutuhkan lingkungan yang tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membantu mereka memahami bagaimana ilmu diterapkan melalui sikap dan perilaku.
Pembukaan KRIS di Masjid Tuo Alkubro karena itu diharapkan menjadi awal dari semangat bersama untuk menghidupkan masjid dengan kegiatan yang edukatif dan konstruktif.
Sebab, membentuk generasi bukan pekerjaan satu pihak. Sekolah memiliki peran, keluarga menjadi fondasi, sementara masyarakat turut menentukan lingkungan tempat anak-anak tumbuh dan belajar.
Dari masjid bersejarah itu, ratusan pelajar diharapkan tidak hanya membawa pulang pengetahuan, tetapi juga semangat untuk menjadi generasi yang berilmu, berakhlak dan mampu membangun hubungan sosial yang baik. (src)
Komentar Anda :