SULUHRIAU, Pekanbaru— Saat langit mulai buram, edukasi jadi tameng pertama.
Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru memperkuat penyuluhan ke masyarakat. Tujuannya agar warga tahu cara melindungi diri dari dampak kabut asap kebakaran hutan dan lahan.
Kepala Dinkes Pekanbaru Hazli Fendrianto menyebut edukasi adalah kunci. Tanpa itu, warga mudah jatuh sakit karena paparan asap.
"Saat ini fokus kami adalah mengedukasi masyarakat. Kami minta warga rajin menguras bak air, menutup rapat pintu dan jendela saat udara tidak baik, serta wajib menggunakan masker setiap keluar rumah," ujar Hazli, Senin 14 September 2026.
Informasi pencegahan disebar masif.
Mulai dari penyuluhan di 21 Puskesmas, konten media sosial Dinkes, hingga tayangan berjalan di layar TV setiap Puskesmas.
Selain edukasi, Dinkes menjalankan tiga langkah pendukung.
Pertama, Surveilans Real Time.
Seluruh Puskesmas wajib lapor kasus ISPA, pneumonia, dan asma setiap hari pukul 12.00 WIB. Data ini jadi patokan wilayah mana yang paling terdampak.
Kedua, Penguatan Layanan Kesehatan. Puskesmas diminta tetap buka layanan khusus pasien terdampak kabut asap, termasuk hari libur. Sistem rujukan kasus karhutla juga diperkuat agar penanganan lebih cepat.
Ketiga, Kesiapan Logistik. Stok obat, BMHP, dan tabung oksigen di 21 Puskesmas sudah diinstruksikan.
Langkah ini untuk mengantisipasi lonjakan pasien.
Hazli juga mengingatkan lima kebiasaan penting saat musim asap.
Pakai masker, tutup pintu dan jendela, perbanyak minum air putih, konsumsi makanan bergizi, dan rutin cuci tangan.
"Jangan tunggu parah baru ke Puskesmas. Kalau batuk lebih dari 2 minggu, sesak napas, atau mata perih, segera periksa. Pelayanan kita siapkan," tegasnya.
Ia menutup dengan ajakan. "Udara Bersih, Hidup Sehat, Pekanbaru Hebat."
Data Dinkes mencatat, kasus dampak karhutla di Pekanbaru sempat tinggi.
Periode 24 Agustus sampai 13 September 2026, puncaknya terjadi 27 Agustus dengan 384 kasus.
Dari jumlah itu, 341 kasus adalah ISPA.
Angka sempat turun ke 125 kasus pada 30 Agustus. Terakhir 13 September tercatat 34 kasus.
"Meski sudah turun, kewaspadaan tetap harus dijaga. Edukasi akan terus kami gencarkan," pungkas Hazli. (src)
Komentar Anda :