Operasi Serentak, Sungai Tesso Dibebaskan dari Penambang Emas Liar, 12 Rakit Dimusnahkan
SULUHRIAU, Kampar— Sungai Tesso dibersihkan. Rakit-rakit ilegal ditumbangkan, Sabtu (5/9/2026) Polsek Kampar Kiri menggelar operasi besar. Targetnya penambangan emas tanpa izin PETI yang merusak aliran Sungai Tesso, Kecamatan Gunung Sahilan.
Operasi berlangsung dari pukul 11.15 WIB sampai 18.40 WIB. Menyisir tiga titik berbeda dalam satu hari.
Kapolsek Kampar Kiri Kompol Rusyandi Z Siregar memimpin langsung. Didampingi Wakapolsek Iptu Wahyu Saputra, Kanit Reskrim AKP Khamry Gufron, dan personel lainnya.
Sebanyak 12 unit motor dikerahkan. Apel kesiapan digelar di Markas Polsek sebelum tim bergerak.
Titik pertama di Dusun I Pancuran Gading, Desa Gunung Sahilan. Di tengah sungai petugas menemukan dua rakit yang sedang beroperasi.
Begitu melihat polisi, tiga pekerja melompat dan berenang ke seberang. Mereka berhasil kabur.
Rakit beserta mesin dompeng dan peralatan lainnya tetap ditindak. Petugas membakarnya di tempat hingga habis. Dipastikan api padam sebelum lanjut.
"Kami tidak bisa membiarkan aktivitas ini terus merusak sungai dan merugikan negara. Penambangan tanpa izin bukan hanya soal melanggar hukum, tetapi juga merusak ekosistem sungai yang menjadi sumber kehidupan warga di sekitar sini," tegas Kompol Rusyandi.
"Kami menindak tegas sarana yang digunakan agar tidak bisa lagi dipakai untuk merusak alam. Sekalipun pelaku melarikan diri, kami terus memantau dan akan memproses hukum secara berjenjang. Ini pesan tegas: Sungai Tesso bukan tempat untuk eksploitasi liar," tambahnya.
Menjelang sore tim bergerak ke titik kedua di Desa Suka Makmur. Di sana ditemukan empat rakit. Kondisinya tidak beroperasi dan tidak ada orang.
Karena termasuk sarana penunjang kegiatan ilegal, empat rakit itu juga dimusnahkan dengan cara dibakar.
Pukul 17.00 WIB operasi berlanjut ke titik ketiga. Lokasinya di Dusun Kuran, Desa Gunung Sahilan.
Di titik ini ditemukan enam rakit PETI. Semuanya dalam keadaan tidak beroperasi. Tanpa ragu petugas kembali membakar seluruh peralatan.
Total 12 rakit berhasil dimusnahkan. Semua dilengkapi mesin dompeng. Jika dibiarkan, dampak kerusakan lingkungannya besar.
Setelah dipastikan tidak ada lagi rakit di sepanjang aliran, operasi ditutup pukul 18.40 WIB. Situasi aman dan kondusif.
Langkah ini jadi bukti nyata kehadiran Polri. Tidak hanya menegakkan hukum, tapi juga menjaga alam untuk masyarakat dan generasi mendatang. (hpk)
Komentar Anda :