SULUHRIAU, Kampar — Ada nama kampung yang tidak pernah benar-benar ditinggalkan.
Namanya Kampuong Lamo. Dan setiap tahun, ia hidup kembali lewat cerita, adat, dan air mata haru warganya.
Sabtu (29/8/2025) Desa Pulau Godang menggelar Festival Budaya Mangonang Kampuong Lamo. Artinya, mengenang kampung yang lama.
Tahun ini peringatan terasa istimewa. Bertepatan dengan HUT ke-34 Pemindahan Desa Pulau Godang dari tempat semula.
Bupati Kampar H. Ahmad Yuzar hadir langsung. Didampingi Wakil Bupati Dr. Hj. Misharti dan Sekda Dr. Ardi Mardiansyah. Turut serta tokoh adat, ninik mamak, alim ulama, hingga generasi muda.
Suasana penuh nuansa adat. Bukan sekadar seremoni. Ini ruang untuk mengingat.
34 tahun lalu masyarakat Pulau Godang harus pindah. Meninggalkan rumah, sawah, dan jejak hidup yang sudah tumbuh lama.
Pemindahan itu berat. Tapi tidak memutus benang sejarah. Cerita para tetua, adat istiadat, dan nilai kebersamaan tetap dijaga.
Festival ini lahir dari kegelisahan itu. Agar anak kemenakan yang lahir setelah 1992 tetap tahu dari mana mereka berasal.
"Generasi muda Pulau Godang harus mengetahui bahwa apa yang mereka nikmati hari ini tidak lahir begitu saja. Ada keringat orang tua, ada perjuangan ninik mamak, ada doa para alim ulama dan ada kebersamaan masyarakat yang telah melewati perjalanan panjang," ujar Bupati Ahmad Yuzar.
Ia mengapresiasi masyarakat yang terus merawat sejarah melalui Mangonang Kampuong Lamo.
Bagi Pemkab Kampar, kegiatan ini punya nilai lebih dari sekadar nostalgia. Ini pendidikan budaya. Ini pengingat bahwa pembangunan hari ini berdiri di atas pengorbanan.
"Kita ingin Mangonang Kampuong Lamo bukan hanya mengenang masa lalu. Tapi menjadi jembatan menuju masa depan," lanjutnya.
Ke depan, festival ini akan ditetapkan sebagai agenda tahunan. Pelaksanaannya akan dibuat lebih terencana dan melibatkan semua unsur.
Tujuannya satu. Agar identitas budaya Kampar tidak luntur. Agar anak cucu tahu, kampung boleh pindah, tapi akar tidak boleh dicabut. (kmf)
Komentar Anda :