Rabu, 30 September 2026 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026 | Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum | Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti | Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi | Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai | RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
 
 
☰ Internasional
Kenapa AS Selalu Meributkan Nuklir Iran, Tapi Tidak Negara Lain?
Minggu, 19 April 2026 - 20:04:55 WIB

SULUHRIAU, Pekanbaru- Sejak berseteru pascarevolusi 1979, Amerika Serikat selalu meributkan dan menuding Iran sedang mengembangkan senjata nuklir.


Beberapa kali serangan ke negari para mullah itu juga dengan dalih urusan nuklir.


Mengapa AS hanya mempersoalkan nuklir Iran tapi tidak terlalu mempermasalahkan negara lain yang memiliki senjata nuklir?


Sebenarnya AS pernah membantu mengembangkan program nuklir Iran pada tahun 1957 hingga akhir 1970-an di era Shah Reza Pahlavi. Program itu dikenal dengan "Atoms for Peace".


Kerjasama ini diresmikan pada 1957, dan AS memasok reaktor riset 5 MW (megawatt) serta uranium tingkat tinggi ke Teheran pada 1967. 


Namun seiring kejatuhan monarki Pahlavi pada 1979, Iran terus mengembangkan program nuklirnya sementara AS mulai berbalik menuding untuk senjata pemusnah massal.


Laman Arms Control Association, yang didirikan pada tahun 1971, menuliskan bahwa minat Iran untuk mengejar program tenaga nuklir yang ambisius sudah berjalan jauh sebelum revolusi 1979 pecah.


"Amerika Serikat memberikan dorongan awal bagi program nuklir Iran dengan menandatangani perjanjian kerja sama nuklir di bawah Program Atom untuk Perdamaian Presiden Dwight Eisenhower pada tahun 1957 dan kemudian menyediakan Reaktor Penelitian Teheran berkapasitas lima megawatt-termal (MWt). 


Pemerintah Shah kemudian mengumumkan rencana untuk membangun lebih dari 20 reaktor tenaga nuklir untuk menghasilkan listrik," tulis laman tersebut.


Analis Sabrina Sergi dalam riset "The US-Iran Relations and the Shah's Nuclear Program (1957-1978)" menyebut, dukungan AS terhadap program nuklir Iran bukan semata untuk memperkuat kerja sama militer, tetapi juga sebagai upaya mengendalikan arah politik Iran.


Sebab bagi AS, mengontrol politik Iran berarti mengamankan kepentingan energi. Sebab, Iran kala itu adalah eksportir minyak utama dunia.


Sementara analis senior International Crisis Group, Ali Vaez, kepada NPR menyebut kerjasama tersebut bertujuan agar AS bisa mengawasi Iran, khususnya di sektor nuklir, agar tidak mengembangkan senjata pemusnah massal.


Sejak saat itu, AS menerima para sarjana terbaik Iran belajar langsung di kampus-kampus ternama. Lalu, AS juga rutin mengirimkan bahan baku nuklir, uranium, ke Iran dengan total fantastis.


"AS memasok 5.545 kg uranium yang 5.165 di antaranya mengandung isotop fisil ke Iran untuk bahan bakar reaktor riset. AS juga memasok 112 kg plutonium yang 104 kg di antaranya digunakan sebagai sumber awal reaktor riset," tulis Oxford Research Group.


Tapi kondisi berbalik setelah masa transisi singkat menyusul revolusi 1979, pemerintah Iran melanjutkan upaya mengejar aspirasi nuklir rezim sebelumnya meskipun secara perlahan. Sebab, Ayatollah Ruhollah Khomeini awalnya menentang pengembangan nuklir karena alasan teologis.


Tapi setelah kematian Khomeini pada tahun 1989, pemimpin tertinggi yang baru, Ayatollah Ali Khamenei, memperluas aktivitas nuklir Iran yang tidak diumumkan.


Kemampuan nuklir yang telah dikejar Iran dapat digunakan untuk program energi nuklir damai dan pengembangan senjata nuklir, meskipun beberapa kemampuan yang menjadi fokus utama Iran sebelum kesepakatan Juli 2015 menunjukkan niat sebelumnya untuk mengembangkan opsi membangun senjata.


Amerika yang sudah marah dengan revolusi karena menggulingkan sekutunya, Pahlavi, sejak itu selalu menuding Iran mengembangkan senjata nuklir.


"Memang benar, Amerika Serikat dan sekutunya memiliki alasan untuk khawatir tentang perilaku Iran, seperti dukungannya terhadap kelompok teroris seperti Hizbullah. 


Tetapi Iran juga memiliki alasan untuk khawatir tentang keamanannya. Musuh utamanya, Amerika Serikat, selama bertahun-tahun tidak hanya mempraktikkan kebijakan penahanan ganda terhadap Iran (dan Irak) tetapi juga mendukung kelompok-kelompok ekspatriat yang bertekad untuk menggulingkan rezim di Teheran, termasuk melalui cara-cara kekerasan," kata Robert E. Hunter, penasihat senior di Rand Corp yang juga pernah menjabat sebagai Duta Besar AS untuk NATO dari 1993 hingga 1998 dan Direktur Urusan Timur Tengah di Dewan Keamanan Nasional dari 1979 hingga 1981.


"Perubahan rezim di Teheran telah menjadi tema berulang dalam kebijakan AS seperti halnya dalam kebijakan Israel, yang juga sangat mendukung invasi AS ke Irak. 


Iran diberi tempat dalam 'poros kejahatan' AS dan sekarang bahkan lebih rentan daripada beberapa tahun yang lalu terhadap kekuatan militer AS di dekatnya. 


Namun, betapapun sahnya kebijakan dan tindakan AS ini, bersama dengan permusuhan terhadap Iran dari beberapa negara regional utama, hal itu memberikan dasar objektif bagi kekhawatiran keamanan Iran," ia menambahkan. (CNNIndonesia.com)


 




 
Berita Lainnya :
  • Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
  • Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
  • Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
  • Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
  • Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
    02 Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
    03 Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
    04 Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
    05 Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
    06 RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
    07 Perkuat Koordinasi Kelembagaan, KPU dan Kejati Riau Teken Perjanjian Kerja Sama
    08 Petakan Isu Hukum Berbasis Data, Kanwil Kemenkum Riau Libatkan Lintas Instansi
    09 Kanwil Kemenkum Riau Bahas Strategi Implementasi Standar Layanan Bantuan Hukum
    10 63 Pejabat Pemko Pekanbaru Berganti Posisi, Berikut Nama dan Jabatannya
    11 Titik Api Nihil di Riau, Kabut Asap Kiriman Selimuti Sejumlah Daerah
    12 Polsek Tapung Tangkap Warga Tanjung Sawit dan Sita 31,41 Gram Sabu
    13 Siti Hasmah Istri Mantan PM Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100 Tahun, Malaysia Gelar Pemakaman Kenegaraan
    14 Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Pembentukan Regulasi Bersama Unri
    15 Perkuat Peran Posbankum, Kanwil Kemenkum Riau Beri Edukasi Hukum pada Masyarakat Tuah Negeri
    16 Aktifkan Posbankum Tuah Negeri, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Paralegal Lewat SIBAPAK
    17 Diikuti 50 Kepala Sekolah, PWI Kepulauan Meranti Taja Pelatihan dan Seminar Jurnalistik
    18 8 Tahun Terbengkalai, Pemprov Riau akan Urus Jembatan Penghubungkan Pasar Rumbio-Pulau Payung
    19 Polsek Tambang Tangkap Pelaku Pemerkosaan Remaja, Dua Pelaku Lain Masih Buron
    20 Evaluasi Kebijakan Indikasi Geografis, Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Diskusi Strategis Nasional
    21 Catat Jadwalnya, Pasar Murah Pemprov Riau Digelar di 6 Kelurahan Pekanbaru
    22 Isu West Papua Diungkit di Sidang PBB ke- 81, Ketua BKSAP DPR RI Kecam PM Solomon
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat