Rabu, 30 September 2026 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026 | Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum | Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti | Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi | Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai | RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
 
 
☰ Internasional
Ini Pimpinan Tertinggi Iran Gantikan Ayotollah Ali Khamenei, tidak Disukai AS
Senin, 09 Maret 2026 - 13:38:19 WIB

SULUHRIAU- Iran resmi menunjuk dan menetapkan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi Republik Islam Iran menggantikan ayahnya, Ayatollah Ali Khamenei, yang tewas dalam serangan Amerika Serikat dan Israel yang memicu konflik besar di kawasan.


Penunjukan Mojtaba Khamenei diumumkan pada Minggu (8/3/2026) waktu setempat oleh para ulama Iran yang menjadi bagian dari lembaga pemilih pemimpin tertinggi negara tersebut. 


Ia kini akan memimpin Iran di tengah krisis terbesar sejak berdirinya Republik Islam Iran hampir lima dekade lalu.


Pria berusia 56 tahun itu sebelumnya tidak pernah mencalonkan diri dalam jabatan publik ataupun mengikuti pemilihan umum. 


Meski begitu, selama puluhan tahun Mojtaba dikenal sebagai sosok berpengaruh di lingkaran dalam kepemimpinan ayahnya dan memiliki hubungan kuat dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).


Dalam beberapa tahun terakhir, namanya makin sering disebut sebagai kandidat kuat penerus Ali Khamenei.


Mojtaba juga dikenal sebagai penentang kelompok reformis yang ingin membuka hubungan dengan Barat, terutama dalam upaya membatasi program nuklir Iran.


Latar Belakang dan Perjalanan Hidup
Mojtaba Khamenei lahir pada 1969 di kota suci Syiah, Mashhad. Ia tumbuh ketika ayahnya aktif dalam gerakan oposisi terhadap Shah Iran sebelum revolusi 1979.


Saat masih muda, Mojtaba juga sempat terlibat dalam perang Iran-Irak.
Ia kemudian menempuh pendidikan agama di Qom, pusat pembelajaran teologi Syiah di Iran, di bawah bimbingan para ulama konservatif. Mojtaba memiliki gelar keagamaan Hojjatoleslam.


Dalam perkembangan terbaru, keluarga Mojtaba juga terdampak langsung oleh konflik yang sedang berlangsung. Istrinya dilaporkan tewas dalam serangan udara pada Sabtu lalu.


Sang istri merupakan putri dari tokoh garis keras terkemuka Iran sekaligus mantan ketua parlemen, Gholamali Haddadadel.


Secara fisik, Mojtaba memiliki kemiripan yang kuat dengan ayahnya. Ia juga mengenakan sorban hitam yang menandakan bahwa keluarganya merupakan sayyed, yakni keturunan Nabi Muhammad.


Namun para pengkritik menilai ia tidak memiliki kredensial keagamaan yang cukup untuk menjadi pemimpin tertinggi. 


Gelar Hojjatoleslam yang ia miliki berada satu tingkat di bawah Ayatollah, gelar yang dimiliki ayahnya serta Ayatollah Ruhollah Khomeini, pendiri Republik Islam Iran.


Meski demikian, namanya tetap menjadi kandidat kuat dalam beberapa tahun terakhir, terutama setelah kandidat lain yang dianggap potensial, mantan Presiden Ebrahim Raisi, meninggal dalam kecelakaan helikopter pada 2024.


Sebuah informasi diplomatik AS yang ditulis pada 2007 dan kemudian dipublikasikan oleh WikiLeaks bahkan menyebut Mojtaba sebagai salah satu jalur untuk menjangkau Ali Khamenei.


Pengamat menilai penunjukan Mojtaba dapat menjadi sinyal bahwa kelompok garis keras di dalam struktur kekuasaan Iran masih memegang pengaruh besar. 


Situasi ini juga diperkirakan membuat peluang negosiasi atau kesepakatan damai dalam waktu dekat menjadi kecil, terlebih ketika perang telah memasuki pekan kedua.


Al Jazeera menggambarkan Mojtaba Khamenei sebagai sosok yang selama ini bertindak sebagai penjaga gerbang bagi ayahnya.


"Ia adalah penjaga gerbang ayahnya. Ia mengadopsi posisi ayahnya terkait Amerika Serikat dan Israel. Jadi kita kemungkinan akan melihat pemimpin yang konfrontatif. Kita tidak mengharapkan adanya moderasi," tulis Al Jazeera.


Meski demikian, kemungkinan perubahan tetap ada dalam jangka panjang.


"Namun jika perang ini berakhir dan ia masih hidup serta mampu terus menjalankan negara, maka akan ada potensi besar untuk menemukan jalur-jalur baru bagi Iran."


Rami Khouri, Distinguished Public Policy Fellow di American University of Beirut, mengatakan penunjukan Mojtaba menunjukkan adanya kesinambungan dalam sistem kekuasaan Iran. 


Namun, menurutnya, masih terlalu dini untuk memastikan apakah pemimpin baru itu akan mendorong negosiasi guna mengakhiri perang.


Apapun langkah yang diambil, Khouri menilai keputusan tersebut juga merupakan bentuk perlawanan politik.


"Ini adalah tindakan pembangkangan. Iran pada dasarnya mengatakan kepada Amerika dan Israel: "Kalian ingin menyingkirkan sistem kami? Baiklah... ini orang yang bahkan lebih radikal daripada ayahnya yang dibunuh'," kata Khouri.


Sementara itu, anggota Majelis Ahli Iran, Heidari Alekasir, menjelaskan bahwa kandidat pemimpin tertinggi dipilih berdasarkan nasihat Ali Khamenei sebelum wafat.


Menurutnya, pemimpin tertinggi Iran seharusnya tidak dipuji oleh musuh negara. "Ia dipilih berdasarkan nasihat mendiang Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran seharusnya 'dibenci oleh musuh' alih-alih dipuji oleh mereka," ujarnya.


Ia juga menyinggung pernyataan Presiden AS Donald Trump sebelumnya yang menyebut Mojtaba Khamenei sebagai pilihan yang "tidak dapat diterima". "Bahkan Setan Besar [Amerika Serikat] pun telah menyebut namanya," kata ulama senior tersebut.


Pemimpin tertinggi Iran dipilih oleh Majelis Ahli yang beranggotakan 88 ulama. Sebelumnya lembaga itu menyatakan telah mencapai konsensus mayoritas mengenai pengganti Ali Khamenei tanpa mengungkapkan namanya.


Salah satu anggota majelis sempat mengatakan, "Jalan Imam Khomeini dan jalan Imam Khamenei yang gugur telah dipilih. Nama Khamenei akan terus berlanjut."


Ali Khamenei sendiri memimpin Iran selama 37 tahun setelah menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini, tokoh yang memimpin Revolusi Iran 1979. 


Ia tewas pada 28 Februari lalu dalam serangan AS dan Israel di Teheran, yang sekaligus menjadi awal dari perang yang kini memicu kekacauan di Timur Tengah.


Militer Israel sebelumnya bahkan telah mengancam akan membunuh siapapun yang menggantikan posisi Khamenei. 


Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump juga sempat menyatakan ingin ikut menentukan siapa yang akan menjadi pemimpin Iran berikutnya.


Trump mengatakan perang kemungkinan hanya akan berakhir setelah militer dan para pemimpin Iran dilumpuhkan.


Pada Minggu, Trump juga menegaskan bahwa pemimpin baru Iran tidak akan bertahan lama tanpa persetujuan dari AS.


"Ia harus mendapatkan persetujuan dari kami. Jika ia tidak mendapatkan persetujuan dari kami, ia tidak akan bertahan lama," kata Trump kepada ABC News.


Pernyataan tersebut langsung ditolak oleh para pejabat Iran. Mereka menegaskan bahwa hanya rakyat Iran yang berhak menentukan masa depan negaranya, termasuk memilih pemimpin tertinggi.


Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf bahkan menyindir keras pernyataan Trump mengenai keinginannya terlibat dalam penunjukan pemimpin Iran.


"Nasib Iran tercinta, yang lebih berharga dari kehidupan, akan ditentukan hanya oleh bangsa Iran yang bangga, bukan oleh geng Epstein," tulis Ghalibaf di platform X. (cnbc, dtc)


 


 




 
Berita Lainnya :
  • Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
  • Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
  • Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
  • Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
  • Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
    02 Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
    03 Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
    04 Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
    05 Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
    06 RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
    07 Perkuat Koordinasi Kelembagaan, KPU dan Kejati Riau Teken Perjanjian Kerja Sama
    08 Petakan Isu Hukum Berbasis Data, Kanwil Kemenkum Riau Libatkan Lintas Instansi
    09 Kanwil Kemenkum Riau Bahas Strategi Implementasi Standar Layanan Bantuan Hukum
    10 63 Pejabat Pemko Pekanbaru Berganti Posisi, Berikut Nama dan Jabatannya
    11 Titik Api Nihil di Riau, Kabut Asap Kiriman Selimuti Sejumlah Daerah
    12 Polsek Tapung Tangkap Warga Tanjung Sawit dan Sita 31,41 Gram Sabu
    13 Siti Hasmah Istri Mantan PM Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100 Tahun, Malaysia Gelar Pemakaman Kenegaraan
    14 Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Pembentukan Regulasi Bersama Unri
    15 Perkuat Peran Posbankum, Kanwil Kemenkum Riau Beri Edukasi Hukum pada Masyarakat Tuah Negeri
    16 Aktifkan Posbankum Tuah Negeri, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Paralegal Lewat SIBAPAK
    17 Diikuti 50 Kepala Sekolah, PWI Kepulauan Meranti Taja Pelatihan dan Seminar Jurnalistik
    18 8 Tahun Terbengkalai, Pemprov Riau akan Urus Jembatan Penghubungkan Pasar Rumbio-Pulau Payung
    19 Polsek Tambang Tangkap Pelaku Pemerkosaan Remaja, Dua Pelaku Lain Masih Buron
    20 Evaluasi Kebijakan Indikasi Geografis, Kanwil Kemenkum Riau Ikuti Diskusi Strategis Nasional
    21 Catat Jadwalnya, Pasar Murah Pemprov Riau Digelar di 6 Kelurahan Pekanbaru
    22 Isu West Papua Diungkit di Sidang PBB ke- 81, Ketua BKSAP DPR RI Kecam PM Solomon
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat