Kamis, 01 Oktober 2026 Pimpin Upacara Kesaktian Pancasila, Kapolres Kampar Tegaskan Pancasila Kompas Pengabdian | Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri | Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar | Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto | Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu | Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
 
 
☰ Sosial Budaya
Tokoh Berpengaruh dalam Sejarah Masjid Raya Senapelan: Dari Sultan Siak hingga Sulaiman India
Kamis, 26 Februari 2026 - 22:36:30 WIB

SULUHRIAU, Pekanbaru- Masjid Raya Senapelan tidak dapat dipisahkan dari peran para sultan dan tokoh masyarakat yang mewarnai perjalanan sejarahnya. 


Masjid ini bukan sekadar bangunan ibadah, melainkan simbol perpindahan pusat kekuasaan, perkembangan perdagangan, serta jejak peradaban Kota Pekanbaru.


Ketua Pengurus Masjid Raya Senapelan Pekanbaru, H Juli Usman, menegaskan bahwa tokoh paling awal dan berpengaruh terhadap berdirinya masjid ini adalah Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah. 


Ia menambahkan, sultan tersebut memegang peran penting dalam memindahkan pusat Kerajaan Siak ke Senapelan pada abad ke-18.


“Untuk yang pertama tentu, Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (Sultan Siak ke-4, bergelar Marhum Bukit) yang menjadi tokoh di balik berdirinya Masjid Senapelan. Ia memindahkan pusat Kerajaan Siak ke Senapelan dan mendirikan masjid ini pada abad ke-18 sebagai bagian dari syarat adat,” kata H Juli Usman, kepada Media Center Riau, di Pekanbaru, Kamis, (26/2/2026).


Pemindahan pusat kerajaan tersebut menjadi momentum penting dalam sejarah kawasan ini. Masjid didirikan bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai simbol legitimasi kekuasaan dan pemenuhan syarat adat dalam tradisi Melayu, yang mensyaratkan keberadaan masjid sebagai bagian dari struktur pemerintahan.


Dijelaskan, setelah Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, tongkat estafet pembangunan dilanjutkan oleh Sultan Siak ke-5, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah, yang bergelar Marhum Pekan. Ia menyempurnakan pembangunan masjid sekaligus menata kawasan di sekitarnya.


“Kemudian, Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (Sultan Siak ke-5, bergelar Marhum Pekan) menyelesaikan pembangunan sekaligus mengembangkan kawasan sekitar masjid menjadi pusat perdagangan. Sehingga, dari sinilah awal mula munculnya nama Pekanbaru,” jelasnya.


Pengembangan kawasan perdagangan di sekitar masjid menjadi cikal bakal tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat. Kata “pekan” yang berarti pasar atau tempat berdagang kemudian berkembang menjadi identitas kota, yang hari ini dikenal sebagai Pekanbaru.


Eksistensi masjid ini sekaligus menjadi bukti bahwa wilayah Senapelan pernah menjadi pusat kekuasaan Kerajaan Siak Sri Indrapura. Dari sinilah sejarah pemerintahan, agama, dan perdagangan bertaut dalam satu ruang yang sama.


Memasuki abad ke-20, pembangunan masjid memasuki fase baru di masa pemerintahan Sultan Siak ke-12, Sultan Syarif Hasyim II. Pada tahun 1926, ia menggagas pembangunan masjid baru dengan konstruksi yang lebih kokoh.


“Memasuki tahun 1926, Sultan Syarif Hasyim II melakukan pembangunan masjid yang baru, jaraknya sekitar 30 meter dari tempat lama. Sultan Siak ke-12 ini mengubah bahan masjid yang semulanya kayu menjadi bangunan lebih kokoh. Pembangunan masjid ini berlangsung selama 10 tahun,” tutur Juli Usman.


Perubahan material dari kayu ke struktur yang lebih permanen menandai transformasi arsitektur dan visi pembangunan yang lebih modern. Proses pembangunan yang berlangsung satu dekade menunjukkan keseriusan dan komitmen Kesultanan dalam menjaga keberlangsungan masjid sebagai pusat spiritual masyarakat.


Selain para sultan, Juli Usman mengungkapkan terdapat tokoh masyarakat yang tak kalah penting dalam pembangunan masjid, yakni Haji Sulaiman India. Ia dikenal sebagai arsitek sekaligus panitia pelaksana pembangunan masjid pada masa itu.


“Tokoh penting lainnya yang ikut mendirikan masjid ini adalah Haji Sulaiman India. Beliau merupakan arsitek yang sekaligus panitia pelaksana pembangunan masjid. Sumur tua dibangun sejak tahun 1928, merupakan peninggalan yang diprakarsai dirinya,” ungkapnya.


Sumur tua yang masih ada hingga kini menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang memperkaya nilai arsitektur dan budaya masjid. Keberadaannya menjadi saksi keterlibatan tokoh non-sultan dalam pembangunan fisik dan fasilitas penunjang rumah ibadah tersebut.


Ketua Pengurus Juli Usman menerangkan, bahwa perjalanan panjang Masjid Raya Senapelan menunjukkan bahwa banyak tokoh yang terlibat, baik dari kalangan kerajaan maupun masyarakat. Kolaborasi inilah yang membuat masjid tetap bertahan lintas generasi.


“Perjalanan masjid ini sangat panjang dan orang-orang yang terlibat dalam pembangunan juga banyak. Masjid Raya Senapelan menjadi bukti bahwa Kerajaan Siak Sri Indrapura pernah bertahta di Pekanbaru. Artinya, tak salah jika kawasan ini menjadi salah satu tempat referensi sejarah di daerah kita,” tegasnya. (mcr)


 




 
Berita Lainnya :
  • Pimpin Upacara Kesaktian Pancasila, Kapolres Kampar Tegaskan Pancasila Kompas Pengabdian
  • Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri
  • Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
  • Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
  • Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Pimpin Upacara Kesaktian Pancasila, Kapolres Kampar Tegaskan Pancasila Kompas Pengabdian
    02 Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri
    03 Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
    04 Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
    05 Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
    06 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
    07 Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
    08 Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
    09 Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
    10 Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
    11 RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
    12 Perkuat Koordinasi Kelembagaan, KPU dan Kejati Riau Teken Perjanjian Kerja Sama
    13 Petakan Isu Hukum Berbasis Data, Kanwil Kemenkum Riau Libatkan Lintas Instansi
    14 Kanwil Kemenkum Riau Bahas Strategi Implementasi Standar Layanan Bantuan Hukum
    15 63 Pejabat Pemko Pekanbaru Berganti Posisi, Berikut Nama dan Jabatannya
    16 Titik Api Nihil di Riau, Kabut Asap Kiriman Selimuti Sejumlah Daerah
    17 Polsek Tapung Tangkap Warga Tanjung Sawit dan Sita 31,41 Gram Sabu
    18 Siti Hasmah Istri Mantan PM Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100 Tahun, Malaysia Gelar Pemakaman Kenegaraan
    19 Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Pembentukan Regulasi Bersama Unri
    20 Perkuat Peran Posbankum, Kanwil Kemenkum Riau Beri Edukasi Hukum pada Masyarakat Tuah Negeri
    21 Aktifkan Posbankum Tuah Negeri, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Paralegal Lewat SIBAPAK
    22 Diikuti 50 Kepala Sekolah, PWI Kepulauan Meranti Taja Pelatihan dan Seminar Jurnalistik
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat