Minggu, 16 Agustus 2026 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang | Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan | Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan | Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal | PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA | Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
 
 
☰ Sosial Budaya
5 Makanan Asal China yang Kini Halal Karena Hasil ''Kawin Campur''
Selasa, 17 Februari 2026 - 11:14:06 WIB
Foto detik.com

SULUHRIAU- Sejarah panjang keberadaan etnis Tionghoa dan ajaran Islam di Indonesia telah membentuk akulturasi budaya dan makanan. Akulturas ini kemudian membuat banyak makanan asal China yang semula non-halal kini menjadi halal.


Akulturasi ini terasa istimewa pada 2026 karena perayaan Imlek dan jatuhnya Ramadan sangat berdekatan yakni berselisih sehari.


Imlek dan Ramadan tahun ini berdekatan, terlihat dari dekorasi hingga kuliner di kota besar memadukan unsur keduanya.


Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Akulturasi budaya Tiongkok di Indonesia telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kuliner.


Berbagai makanan khas Tionghoa pun mengalami adaptasi, terutama dari sisi bahan dan cita rasa, agar lebih sesuai dengan selera serta nilai masyarakat Indonesia.


1. Bakpao: Dari Mantau Isi Babi ke Kudapan Sehari-hari


Di Tiongkok, bakpao dikenal sebagai mantou berisi daging babi yang dikukus dan lazim dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari.


Ketika masuk ke Indonesia, bakpao mengalami perubahan signifikan. Isian daging babi digantikan dengan pilihan yang lebih sesuai dengan masyarakat lokal, seperti kacang hijau, ayam, cokelat, hingga daging sapi.


Tak hanya soal rasa, maknanya pun ikut bergeser. Jika dalam budaya Tionghoa bakpao kerap diasosiasikan dengan simbol keberuntungan atau perayaan tertentu, di Indonesia bakpao telah menjadi camilan umum yang bisa dinikmati kapan saja, dari pasar tradisional hingga minimarket.


2. Bakmi: Adaptasi Rasa dan Sejarah Panjang


Secara etimologis, bakmi berasal dari bahasa Hokkien yang berarti "mi daging" atau "mi babi". Bakmi dibawa para perantau Tionghoa yang kemudian menetap di berbagai wilayah Nusantara. Ada yang mengatakan bahwa hidangan bakmi ini muncul setelah perang antara Tentara Mongolia dan Singosari (Jawa), tepatnya pada zaman Kerajaan Kertanegara.


Seiring waktu, bakmi di Indonesia beradaptasi dengan cita rasa lokal lewat penggunaan bumbu seperti kecap manis dan sambal, serta topping halal seperti ayam, sapi, atau bakso. Bahkan muncul variasi khas daerah seperti bakmi Jawa dan bakmi Bangka, membuatnya tetap relevan dari kuliner tradisional hingga modern.


3. Siomay: Dari Shumai ke Jajanan Favorit


Siomay juga merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa yang masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan maritim sejak lama. Nama "siomay" sendiri berasal dari kata Mandarin "shumai" yang mengalami penyesuaian pelafalan oleh masyarakat lokal.


Jika shumai di China umumnya berisi daging babi, versi Indonesia berkembang menggunakan ayam, udang, hingga ikan tenggiri sebagai bahan utama. Perubahan ini membuat siomay lebih sesuai dengan preferensi masyarakat Indonesia, terutama dari sisi kehalalan.


Kini siomay dikenal luas sebagai jajanan khas Bandung, lengkap dengan bumbu kacang, kentang, tahu, kol, dan telur.


4. Bakcang Ayam: Tradisi Lama, Rasa Baru


Bakcang, makanan berbahan beras ketan yang dibungkus daun dan diisi daging, memiliki akar sejarah panjang dalam budaya Tionghoa. Hidangan ini biasanya hadir dalam perayaan tradisional tertentu.


Di Indonesia, khususnya di lingkungan Betawi, bakcang mengalami adaptasi cukup signifikan. Isian daging babi diganti dengan ayam, telur asin, kelapa, atau sayuran agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.


Perubahan tersebut membuat bakcang lebih mudah diterima lintas komunitas. Meski bentuk dan teknik pembungkusannya tetap dipertahankan, cita rasanya menjadi lebih dekat dengan selera lokal.


5. Lumpia: Perpaduan Tionghoa-Jawa yang Ikonik


Sejarah lumpia di Indonesia berawal dari pertemuan seorang pendatang Tionghoa yang menjual makanan berisi daging babi dan rebung dengan perempuan Jawa yang menjual hidangan mirip namun berisi kentang dan udang bercita rasa manis.


Keduanya kemudian menikah dan menggabungkan usaha kuliner mereka. Dari sinilah lahir lumpia khas Semarang dengan isi rebung, ayam atau udang, serta rasa yang lebih manis gurih sesuai selera lokal.


Kini lumpia menjadi salah satu ikon kuliner Indonesia yang populer lintas generasi dan latar belakang budaya. (CNBCIndonesia)


 




 
Berita Lainnya :
  • Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
  • Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
  • Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
  • Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
  • PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    02 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    03 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    04 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    05 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    06 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    07 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    08 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    09 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    10 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    11 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    12 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    13 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    14 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    15 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    16 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
    17 September 2026, 2,4 Juta Warga Singapura Terima Bantuan Tunai hingga Rp8,3 Juta
    18 Perdana Dilakukan di Pekanbaru, Wali Kota Ajak Kepala OPD Menginap Bersama Retreat RT-RW
    19 Kemenkum Riau Dorong Civitas Akademika UIR Lindungi Inovasi Melalui Paten
    20 Remaja 18 Tahun Terjun ke Sungai Siak di Bawah Jebatan Leighton, Begini Detik-detik Penyelamatan Polisi
    21 Dari Istana ke Desa Gobah, Prabowo Apresiasi 110 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau
    22 Wujudkan WBBM 2026, Kemenkum Riau Benahi Data dan Inovasi Layanan
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat