Kamis, 01 Oktober 2026 Pimpin Upacara Kesaktian Pancasila, Kapolres Kampar Tegaskan Pancasila Kompas Pengabdian | Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri | Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar | Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto | Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu | Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
 
 
☰ Sosial Budaya
5 Makanan Asal China yang Kini Halal Karena Hasil ''Kawin Campur''
Selasa, 17 Februari 2026 - 11:14:06 WIB
Foto detik.com

SULUHRIAU- Sejarah panjang keberadaan etnis Tionghoa dan ajaran Islam di Indonesia telah membentuk akulturasi budaya dan makanan. Akulturas ini kemudian membuat banyak makanan asal China yang semula non-halal kini menjadi halal.


Akulturasi ini terasa istimewa pada 2026 karena perayaan Imlek dan jatuhnya Ramadan sangat berdekatan yakni berselisih sehari.


Imlek dan Ramadan tahun ini berdekatan, terlihat dari dekorasi hingga kuliner di kota besar memadukan unsur keduanya.


Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Akulturasi budaya Tiongkok di Indonesia telah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk dalam kuliner.


Berbagai makanan khas Tionghoa pun mengalami adaptasi, terutama dari sisi bahan dan cita rasa, agar lebih sesuai dengan selera serta nilai masyarakat Indonesia.


1. Bakpao: Dari Mantau Isi Babi ke Kudapan Sehari-hari


Di Tiongkok, bakpao dikenal sebagai mantou berisi daging babi yang dikukus dan lazim dikonsumsi sebagai makanan sehari-hari.


Ketika masuk ke Indonesia, bakpao mengalami perubahan signifikan. Isian daging babi digantikan dengan pilihan yang lebih sesuai dengan masyarakat lokal, seperti kacang hijau, ayam, cokelat, hingga daging sapi.


Tak hanya soal rasa, maknanya pun ikut bergeser. Jika dalam budaya Tionghoa bakpao kerap diasosiasikan dengan simbol keberuntungan atau perayaan tertentu, di Indonesia bakpao telah menjadi camilan umum yang bisa dinikmati kapan saja, dari pasar tradisional hingga minimarket.


2. Bakmi: Adaptasi Rasa dan Sejarah Panjang


Secara etimologis, bakmi berasal dari bahasa Hokkien yang berarti "mi daging" atau "mi babi". Bakmi dibawa para perantau Tionghoa yang kemudian menetap di berbagai wilayah Nusantara. Ada yang mengatakan bahwa hidangan bakmi ini muncul setelah perang antara Tentara Mongolia dan Singosari (Jawa), tepatnya pada zaman Kerajaan Kertanegara.


Seiring waktu, bakmi di Indonesia beradaptasi dengan cita rasa lokal lewat penggunaan bumbu seperti kecap manis dan sambal, serta topping halal seperti ayam, sapi, atau bakso. Bahkan muncul variasi khas daerah seperti bakmi Jawa dan bakmi Bangka, membuatnya tetap relevan dari kuliner tradisional hingga modern.


3. Siomay: Dari Shumai ke Jajanan Favorit


Siomay juga merupakan hasil akulturasi budaya Tionghoa yang masuk ke Nusantara melalui jalur perdagangan maritim sejak lama. Nama "siomay" sendiri berasal dari kata Mandarin "shumai" yang mengalami penyesuaian pelafalan oleh masyarakat lokal.


Jika shumai di China umumnya berisi daging babi, versi Indonesia berkembang menggunakan ayam, udang, hingga ikan tenggiri sebagai bahan utama. Perubahan ini membuat siomay lebih sesuai dengan preferensi masyarakat Indonesia, terutama dari sisi kehalalan.


Kini siomay dikenal luas sebagai jajanan khas Bandung, lengkap dengan bumbu kacang, kentang, tahu, kol, dan telur.


4. Bakcang Ayam: Tradisi Lama, Rasa Baru


Bakcang, makanan berbahan beras ketan yang dibungkus daun dan diisi daging, memiliki akar sejarah panjang dalam budaya Tionghoa. Hidangan ini biasanya hadir dalam perayaan tradisional tertentu.


Di Indonesia, khususnya di lingkungan Betawi, bakcang mengalami adaptasi cukup signifikan. Isian daging babi diganti dengan ayam, telur asin, kelapa, atau sayuran agar lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat.


Perubahan tersebut membuat bakcang lebih mudah diterima lintas komunitas. Meski bentuk dan teknik pembungkusannya tetap dipertahankan, cita rasanya menjadi lebih dekat dengan selera lokal.


5. Lumpia: Perpaduan Tionghoa-Jawa yang Ikonik


Sejarah lumpia di Indonesia berawal dari pertemuan seorang pendatang Tionghoa yang menjual makanan berisi daging babi dan rebung dengan perempuan Jawa yang menjual hidangan mirip namun berisi kentang dan udang bercita rasa manis.


Keduanya kemudian menikah dan menggabungkan usaha kuliner mereka. Dari sinilah lahir lumpia khas Semarang dengan isi rebung, ayam atau udang, serta rasa yang lebih manis gurih sesuai selera lokal.


Kini lumpia menjadi salah satu ikon kuliner Indonesia yang populer lintas generasi dan latar belakang budaya. (CNBCIndonesia)


 




 
Berita Lainnya :
  • Pimpin Upacara Kesaktian Pancasila, Kapolres Kampar Tegaskan Pancasila Kompas Pengabdian
  • Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri
  • Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
  • Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
  • Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Pimpin Upacara Kesaktian Pancasila, Kapolres Kampar Tegaskan Pancasila Kompas Pengabdian
    02 Komjen Pol Suyudi Ario Seto Segera Gantikan Listyo Sigit Jadi Kapolri
    03 Usai Komisi XIII DPR, 10 Bangunan Bak 'Apartemen Mewah' di Lapas Cibinong Dibongkar
    04 Bayi Gajah Jantan Lisa Lahir di Tesso Nilo, Diberi Nama Ganesha oleh Titiek Soeharto
    05 Kembangkan Kasus IRT, Polres Kampar Tangkap Pria Simpan 7 Paket Sabu
    06 Kanwil Kemenkum Riau Raih Nilai 100 pada Verifikasi Rencana Aksi Program KI Triwulan III 2026
    07 Dorong Penguatan SIKIDA, Kanwil Kemenkum Riau Koordinasi dengan Pusdatin Kemenkum
    08 Fasilitasi Ranperda Pemajuan Kebudayaan, Kemenkum Riau Perkuat Keselarasan Regulasi Meranti
    09 Perkuat Kesiapsiagaan Bencana, Kanwil Kemenkum Riau Bahas Ranperda Kuantan Singingi
    10 Bidik Pasar Malaysia, KADIN dan Bea Cukai Siapkan Skema Bersama untuk Ekspor UMKM Dumai
    11 RT di Tapung Hulu Ditangkap Jual Sabu, 1,57 Gram Diamankan
    12 Perkuat Koordinasi Kelembagaan, KPU dan Kejati Riau Teken Perjanjian Kerja Sama
    13 Petakan Isu Hukum Berbasis Data, Kanwil Kemenkum Riau Libatkan Lintas Instansi
    14 Kanwil Kemenkum Riau Bahas Strategi Implementasi Standar Layanan Bantuan Hukum
    15 63 Pejabat Pemko Pekanbaru Berganti Posisi, Berikut Nama dan Jabatannya
    16 Titik Api Nihil di Riau, Kabut Asap Kiriman Selimuti Sejumlah Daerah
    17 Polsek Tapung Tangkap Warga Tanjung Sawit dan Sita 31,41 Gram Sabu
    18 Siti Hasmah Istri Mantan PM Mahathir Mohamad Wafat di Usia 100 Tahun, Malaysia Gelar Pemakaman Kenegaraan
    19 Kakanwil Kemenkum Riau Perkuat Kapasitas Pembentukan Regulasi Bersama Unri
    20 Perkuat Peran Posbankum, Kanwil Kemenkum Riau Beri Edukasi Hukum pada Masyarakat Tuah Negeri
    21 Aktifkan Posbankum Tuah Negeri, Kanwil Kemenkum Riau Perkuat Paralegal Lewat SIBAPAK
    22 Diikuti 50 Kepala Sekolah, PWI Kepulauan Meranti Taja Pelatihan dan Seminar Jurnalistik
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat