SULUHRIAU, Pekanbaru- Rayyan Arkan Dikha, seorang bocah (11) yang kini viral di dunia melalui tren "Aura Farming" pacu jalur, Kuantan Singingi (Kuansing) menari bareng bersama Gubernur Riau (Gubri) dan ASN Pemrov Riau, dan ia diangkat menjadi Duta Pariwisata.
Selasa, (8/6/2025) pagi, di halaman Kantor Gubernur Riau ada pandangan menarik. Usai upacara pagi itu, ada suasana meriah penuh sorak-sorai.
Ini tak lain, karena Gubernur Riau Abdul Wahid bersama Rayyan Arkan Dikha seorang bocah asal Desa Pintu Gobang, Kari, Kabupaten Kuantan Singingi yang viral itu nempersembahkan tarian Pacu Jalur di hadapan seluruh pegawai.
Tak hanya menjadi hiburan semata, penampilan singkat itu berhasil menyedot perhatian pegawai Pemprov Riau, sehingga ASN dan sejumlah pejabat setempat tanpa ragu ikut bergabung, menirukan gerakan Dikha lewat tren “Aura Farming” Pacu Jalur.
Raut wajah para ASN terlihat jelas antusias riang gembira. Beberapa merekam momen langka tersebut dengan ponsel, sementara yang lain bertepuk tangan memberi semangat kepada Dikha dan Gubernur Abdul Wahid yang tampak luwes mengikuti irama.
Musik randai khas Kuansing, bergema, gerakan demi gerakan diperagakan. Dikha sebagai pemandu seolah menari dari atas perahu, sedangkan Gubri Abdul Wahid beserta pejabat lainnya menirukan gerakan dayung atau "kayuah" atlet Pacu Jalur.
Bagi banyak orang, momen ini menjadi pengingat bahwa kecintaan pada budaya bisa datang dari siapa saja, termasuk anak seusia Dikha. Momen tersebut juga menjadi refleksi penting bagi Pemprov Riau bahwa potensi budaya tidak hanya terdapat pada perayaan resmi, tetapi juga lahir melalui tangan anak-anak muda kreatif.
Gubernur Abdul Wahid, dengan senyum bangga, tak segan memberikan apresiasi secara terbuka kepada Dikha. Ia mengakui peran besar Dikha dalam memperkenalkan budaya Riau, terutama Pacu Jalur, hingga dikenal mancanegara melalui platform media sosial.
“Kami semua OPD di Pemerintah Provinsi Riau menyambut Dika dalam rangka beliau sudah berjasa memperkenalkan budaya dan tradisi Riau ke mancanegara,” ujarnya.
Lebih dari sekadar apresiasi, Gubri Abdul Wahid juga memandang momen ini sebagai langkah nyata mendekatkan budaya dengan generasi muda.
Ia menilai kreativitas Dikha menjadi contoh betapa warisan budaya daerah bisa dikemas dengan cara modern sehingga diminati khalayak luas.
“Ini merupakan momen yang baik bagi saya sebagai pemimpin dalam rangka mempromosikan budaya dan tradisi Riau,” tambahnya.
Sebagai bentuk penghargaan, Gubernur Abdul Wahid kemudian menobatkan Dikha sebagai Duta Pariwisata Riau. Gelar kehormatan tersebut menjadi simbol pengakuan sekaligus harapan agar Dikha terus menginspirasi anak-anak muda untuk mencintai budaya daerah.
Tak berhenti itu saja, Gubri memberikan beasiswa pendidikan senilai Rp 20 juta untuk Dikha.
“Dikha jasanya besar, untuk itu hari ini saya nobatkan sebagai Duta Pariwisata Riau. Saya juga memberikan beasiswa pendidikan kepada Dika, semoga ini bisa bermanfaat untuknya,” kata Abdul Wahid sambil menepuk pundak Dikha.
Selain itu, Gubernur Abdul Wahid juga mengajak generasi muda untuk berani mengekspresikan kecintaan pada budaya daerah melalui media sosial. Ia percaya cara-cara kreatif seperti yang dilakukan Dikha mampu membawa tradisi Riau lebih dikenal secara global.
“Saya berharap langkah ini memacu generasi muda lainnya untuk ikut mempromosikan budaya daerah melalui berbagai cara kreatif,” tegasnya.
Dengan optimistis, Gubri Abdul Wahid kembali menekankan komitmen pemerintah daerah untuk mendukung pelestarian budaya. Ia pun mengundang masyarakat dari berbagai daerah untuk menyaksikan kemeriahan lomba Pacu Jalur yang akan digelar di Tepian Narosa Kuansing, pada Agustus mendatang.
"Hari ini hampir semua orang membuka mata bahwa tradisi dan budaya sangat berkembang di Riau terutamanya pacu jalur. Ayo datang ke Riau di tanggal 20 sampai 24 Agustus akan diadakan lomba pacu jalur di Batang Kuantan yaitu di tepian Narosa," ajaknya penuh semangat.
Dijelaskan, viralnya Pacu Jalur kali ini bukan hanya hasil dari satu pihak saja, melainkan juga buah kerja keras para konten kreator. Ia memuji para pegiat yang bahkan rela berpanasan hingga berendam berjam-jam di sungai untuk menghasilkan gambar dan video terbaik.
"Saya menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi kepada para konten kreator Pacu Jalur. Berkat mereka, budaya dan tradisi kita bisa dikenal luas oleh masyarakat, bahkan sampai ke luar negeri," jelasnya.
Sementara itu, bagi Dikha sendiri, hari ini adalah pengalaman luar biasa yang tak akan terlupakan sepanjang hidupnya. Dari seorang bocah yang hanya menari di atas jalur, kini ia diangkat menjadi simbol budaya dan kebanggaan Riau.
“Wah saya senang. Gak nyangka sebelumnya bakalan ketemu Pak Gubernur terus diapresiasi jadi Duta Pariwisata Riau. Terima Kasih Pak atas dukungannya," kata Dikha.
Dipanggil Coki
Dikha, yang akrab disapa Anak Coki, menjelaskan bahwa ia telah memulai perannya sebagai penari di ujung perahu sejak dua tahun lalu, saat usianya masih 9 tahun.
Anak Coki adalah sebutan bagi penari yang berdiri di ujung perahu, menggoyangkan tubuh dan menjadi pusat perhatian penonton saat Pacu Jalur berlangsung.
Tugas ini bukan sekadar hiburan, ia harus menjaga keseimbangan di atas perahu panjang yang bergoyang kencang saat didayung puluhan pendayung.
"Hal yang susah untuk menari di atas perahu itu tentunya mengimbangkan badan. Saya belajar sendiri secara otodidak," ungkap Dikha.
Di balik sorot kamera dan ketenarannya, Dikha tetaplah anak yang sederhana dengan mimpi besar. Saat ditanya tentang masa depannya, jawabannya mengundang senyum banyak orang.
"Ke depannya saya akan tetap melanjutkan ini. Cita-cita tentu ingin menjadi tentara, dan kalau bisa juga menjadi Gubernur juga," kata Dikha.
Meskipun kini menjadi superstar dadakan, Dikha tetaplah bocah biasa yang tinggal dan bersekolah di SD 013 Desa Pintu Gobang, Kari, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Ia tidak pernah ikut latihan menari di sekolahnya, hanya rutin menemani ayahnya latihan Pacu Jalur.
"Sekolah tak pernah nari-nari. Ikut ayah saja latihan Pacu Jalur," kata Dikha.
Aksi Dikha yang viral bahkan telah ditiru banyak figur publik, mulai dari Wakil Presiden Indonesia, Gibran Rakabuming, klub sepak bola PSG dan AC Milan, hingga aktris kondang Luna Maya. Dikha sendiri mengaku menari di atas jalur adalah hal biasa baginya, namun ia sangat senang aksinya menjadi viral dan disorot dunia.
"Perasaan senang, kalau menari itu spontan saja," terang Dikha, masih terheran-heran dengan dampak dari tariannya.
Awalnya, Dikha sempat kesulitan karena harus berdiri di ujung jalur yang sempit dan licin. Beberapa kali ia bahkan jatuh dan harus diselamatkan sebelum mencapai garis finis.
"Pertama dulu takut, beberapa kali jatuh. Tapi sekarang sudah enggak takut jatuh karena sudah terbiasa. Kan bisa renang," sambung anak kedua dari Rani Ridawati dan Jufriono ini.
Selama latihan, Dikha memang disiapkan khusus untuk menari di bagian depan jalur, berbeda dengan tukang onjai yang posisinya di belakang dan biasanya lebih dewasa.
Ibu Dikha, Rani Ridawati (36), mengaku sangat senang dan tidak menyangka putranya bisa seviral ini. "Ya senang, tidak menyangka juga. Bangga melihatnya," ujarnya.
Dikha, yang lahir pada 28 Desember 2014, memang sudah aktif menari di Pacu Jalur sejak tiga tahun lalu. Julukan "Aura Farming" kini melekat padanya karena energi positif yang dipancarkannya di atas jalur, menjadikannya ikon baru dalam tradisi budaya ini.
Untuk mencapai ketenarannya saat ini, Dikha rajin berlatih bersama anak-anak pacuan lainnya. Seminggu tiga kali, ia mengasah keterampilan agar menjadi Anak Coki yang memukau saat jalur Tuah Koghi Dubalang Ghajo berpacu.
"Ikut menari di jalur sudah 3 tahun terakhir ini. Kalau latihan sepekan 3 kali. Itu latihan waktu pacu," pungkasnya. (src)