FGD Penguatan Deteksi Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan, Kakan Kemenag: Cegah Gesekan Sebelum Meluas
Jumat, 20 Juni 2025 - 15:32:20 WIB
 |
| Kakan Kemenag Pekanbaru saat acara Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Deteksi Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan, Jumat (20/6/2025).
|
SULUHRIAU, Pekanbaru- Kemenag Pekanbaru menggelar Focus Group Discussion (FGD) Penguatan Deteksi Dini Konflik Sosial Berdimensi Keagamaan, Jumat (20/6/2025).
FGD ini dibuka Kepala Kantor Kemeterian Agama (Kakan Kemenag) Kota Pekanbaru, Drs H Syahrul Mauludi.
Kegiatan dengan tema "Merawat Kebersamaan, Meneguhkan moderasi beragama di Tengah keberagaman" ini diikuti KUA lingkungan Kemenag, Penyuluh Agama Islam, Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI), FKUB, MUI Pekanbaru, PC Nahdatul Ulama Pekanbaru, PD Muhammadiyah Pekanbaru dan unsur lainnya.
Dalam kesempatan tersebut, Syahrul menegaskan Kemenag memberi atensi terkait hal ini. Sebab itu, Syahrul menegaskan kegiatan ini sangat penting.
Tokoh-tokoh agama, organisasi keagamaan, ormas dan tokoh lainnya berperan penting dalam mengantisipasi atau mencegah secara dini potensi gesekan di Kota Pekanbaru ini.
Kota Pekanbaru katanya, maniatur Indonesia, terjadi konflik di Pekanbaru, Riau ini, mata nasional akan melihat ke daerah ini.
Hal ini dikarenakan Pekanbaru sangat heterogen, semua agama dan suku ada di sini. Sebab, itu mendeteksi potensi sejak dini ancaman konflik agar tidak sampai meluas amat peting.
"Kalau konflik itu pecah, ibarat kebakaran, sudahlah susah memadamkan, semua yang ada habis diamuk api itu," katanya Syahrul.
Sama juga tambahnya ibarat penyakit, jika tidak dideteksi sejak dini, dan baru ketahuan setelah stadium empat, sulit didobati dan disembuhkan.
Ditambahkan juga, kalau terjadi konflik, uang banyak untuk bangun mesjid dan pembangunan lainnya, percuma karena juga tidak bisa dilakukan. "Tidak bisa satu pun yang dilakukan kalau terjadi konflik," tegasnya.
Kunci terhidarnya konflik bangun harmonisasi. Kunci dari harmonisasi kata Syahrul saling percaya.
"Jika saling percaya, maka semua akan harmonis, dan melahirkan rasa aman dan nyaman. Sama halnya kita cukur rambut pada tukang cukur. Si tukang cukur memegang pisau tajam, saat bulu-bulu leher kita dicukur kita ketiduran. Padahal pisau tajam berada di leher kita, namun kita tak merasa curiga dan khawatir, bahkan keenakan. Begitulah indahnya saling percaya, "ujar Syahrul dan disambut anggukan peserta.
Inilah kata Syahrul, buah dari FGD yang dilakukan hari ini. Maka dari itu, FKUB, organisasi keagamaan, penyuluh dan kompenen masyarakat lainya supaya peka dan mampu mendeteksi dini potensi konflik. "Jika ada yang mencurigakan cepat dilaporkan untuk ditindaklunjuti," tutupnya. (sr4)
Komentar Anda :