Tagar 'Kabur Aja Dulu' Trending Topik, Begini Respon Menteri KP2MI
Kamis, 13 Februari 2025 - 16:13:04 WIB
.jpeg) |
| Ilustrasi |
SULUHRIAU- Tagar “kabur aja dulu” trending topik di jagat maya atau media sosial (medsos) seperti di X (twitter) saat ini.
Tren ini tengah digandrungi oleh generasi muda belakangan ini.
Tren “kabur aja dulu” berkembang di kalangan generasi muda yang merasa kecewa dengan ketimpangan kesempatan di Indonesia, baik dalam hal beasiswa maupun lapangan pekerjaan yang semakin sulit dijangkau.
Tren “kabur aja dulu” kini juga tengah menjadi sorotan. Banyak orang yang sudah bekerja di luar negeri menyarankan agar netizen mengikuti jejak mereka untuk mencari pekerjaan di luar negeri.
Fenomena “kabur aja dulu” semakin populer karena banyak pihak yang mengungkapkan keuntungan bekerja di luar negeri, seperti gaji yang lebih tinggi dan kualitas hidup yang lebih baik.
Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Abdul Kadir Karding memberikan respon soal terkait maraknya tren “kabur aja dulu".
Ia memberi respon positif terkait tren "Kabur aja dulu". Abdul Kadir Karding mengakui, fenomena ini mencerminkan kegelisahan di kalangan masyarakat. Namun, dia menilai hal tersebut juga bisa dilihat sebagai sebuah peluang.
"Jika Anda merasa ingin 'kabur', pastikan Anda bekerja di luar negeri. Daripada kabur tanpa arah, lebih baik kami siapkan kapasitas Anda untuk bekerja di luar negeri," jelas Karding di kompleks parlemen Senayan, pada Kamis (13/2/2025) pada media.
Abdul Kadir Karding juga menyampaikan, KP2MI siap memfasilitasi generasi muda Indonesia untuk meningkatkan kapasitas mereka agar dapat bersaing dalam memperoleh pekerjaan di luar negeri.
"Kami akan meningkatkan kapasitas mereka, memfasilitasi mereka agar bisa mendapatkan pekerjaan, memperoleh penghasilan, dan pada akhirnya dapat membantu keluarga serta negara," ujarnya.
Menteri Karding menjelaskan, mereka yang telah mengikuti pelatihan dan memiliki kompetensi yang memadai akan dibantu untuk memperoleh pekerjaan di luar negeri sesuai dengan keahlian yang dimiliki.
"Yang penting adalah pelatihan. Setelah itu, kami akan menempatkan mereka di tempat kerja yang sesuai dengan kemampuan mereka," ujarnya dikutip dari beritasatu.com. (*)
Editor: Khairul
Komentar Anda :