Selasa, 23 Juli 2024
Bupati Natuna Hadiri Rapat Paripurna Pendapat Akhir Fraksi DPRD Terhadap Ranperda TA 2024 | Potret Kota Gosong di Bangladesh Dibakar karena Kuota PNS, Gedung-Mobil-JPO Hangus | Polres Kampar Ringkus Pelaku Narkoba di Kelurahan Langgini | Kabel Fiber Optik Melintang di Pekanbaru Makan Korban, Jerat Leher Seorang Perempuan | Wardan Dicopot dari Ketua DPD Golkar Inhil, Karena Imbas Ini? | Ini Tampang Pelaku Curanmor yang Meresahkan Warga Siak Hulu Dibekuk Polisi
 
Religi
KOLOM
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Religi - - Minggu, 30/04/2023 - 13:40:12 WIB

MEMINTA maaf atas kesalahan adalah bagian dari akhlak pergaulan. Sebagai manusia, kita tidak sepi dari kesalahan, baik terhadap Allah Swt Tuhan kita, maupun terhadap sesama.

Ada Tradisi baik sekali di negeri ini berkenaan dengan idul fitri yang kini sudah agak ‘luntur ‘ bersamaan dengan ‘majunya zaman’. Dulu ketika kehidupan masih sederhana dan sebelum orang kenal dengan makhluk yang namanya materialisme, di Idul Fitri atau hari lebaran ada tradisi saling kunjung-mengunjungi, silaturrahmi, dan saling memaafkan diantara sesama.

Bahkan menurut cerita  orang-orang tua, dulu dalam silaturrahmi, mereka meminta maaf dengan merinci kesalahan-kesalahan yang sudah mereka perbuat. Berangsur-angsur tradisi silaturrahmi langsung itu di gantikan dengan kartu lebaran dengan ucapan yang nyaris seragam,”Selamat Hari Raya Idul Fitri, Minal ‘aidin wal faizin, Maaf lahir bathin”.

Dan kini malah cukup dengan sms, pesan melalui HP, seperti: ’Met Lebaran! Maaf ya!”, WA atau ucapan melalui video. Apakah sudah cukup permintaan maaf melalui sms saja, semua tentunya kembali kepada keikhlasan dalam memberi kata maaf tersebut.

Apakah keluar dari lubuk hati yang paling dalam atau sekedar hanya ikut-ikutan ber sms ria saja. Karena berbeda dengan Tuhan, bergaul dengan manusia justru lebih sulit. Manusia punya dendam, punya hati yang rentan dan karenanya sulit memaafkan.

Momentum yang paling diharapkan manusia mudah memaafkan (dan meminta maaf) ya setelah Ramadan, di Idul Fitri ini. Karena dada-dada mereka sedang lapang setelah dosa–dosa mereka kepada Allah telah diampuni.

Bila di Idul Fitri saja, orang tidak meminta maaf atau memaafkan, maka dikesempatan lain pasti lebih sulit. Hari Idul Fitri telah kita nikmati, kesempatan emas untuk melebur dosa sesama manusia dengan meminta maaf dan tentunya tidak sekedar meminta maaf saja.

Kita juga mesti ikhlas memberi maaf kepada semua orang yang pernah berbuat salah atau silaf kepada kita.

Walau mungkin permohonan maaf itu hanya disampaikan melalui lewat sms, ikhlaskan semuanya itulah kunci diterimanya maaf. Karena walau kita berjabat bahkan berpelukan, namun tanpa keikhlasan dihati.

Maka semua itu hanya sandiwara belaka, sebab yang dinilai Allah adalah hati kita bukan bibir atau perbuatan zahir saja.

Salin Bermaafan Tradisi Atau Kewajiban? Menjadi manusia pemurah dengan memaafkan sesama umat adalah amal saleh yang dianjurkan dalam Islam.

Seperti dalam surat Al-A’raf ayat 199 yang artinya “jadilah engkau pemaaf dan serulah orang-orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh”.

Jika sekarang orang mengidentikkan momen hari raya lebaran sebagai waktu untuk minta maaf tidak ada salahnya. Sebenarnya tidak ada waktu atau momen khusus untuk manusia saling bermaaf-maafaan, karena semua waktu itu baik dimanfaatkan untuk meminta maaf.

Pada dasarnya saling bermaafan adalah soal keikhlasan hati untuk meminta dan memberi maaf.
Tradisi bermaaf-maafan pada saat lebaran sangat positif, masyarakat sepakat bahwa hari raya lebaran adalah waktu yang paling baik untuk saling meminta maaf, karena sebagai hari kemenangan dengan subtasnsi kembali ke fitri atau suci.

Proses untuk menjadi suci, seluruh kesombongan manusia dipendam agar menjaga hubungan baik dengan sesama manusia. Secara metafor, kembali ke suci berarti lahirnya kembali seorang Muslim selama beribadah sebulan harus mampu menguatkan keislamannya tanpa hati benci, iri, dengki dan bersih dari dosa dan kemaksiatannya.

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya), kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat)” (HR. Muslim, no.2588).

Arti kemuliaan orang yang pemaaf yaitu dengan seseorang yang dimuliakan hatinya karena sifat yang mudah memaafkan orang lain. Oleh karena itu, sebaiknya untuk tidak mengkhususkan hari saling bermaaf-maafan, karena hal tersebut adalah kewajiban umat yang telah diajarkan oleh Rasulullah untuk diterapkan disetiap waktu kehidupan kita.

Melalui tulisan ini saya juga Mohon Maaf Lahir dan Batin kepada seluruh pembaca. Tentunya sebagai manusia banyak kesalahan dalam penyajian tulisan yang telah dimuat menyinggung perasaan dan berbeda pemahaman dengan pembaca.

Keikhlasan maaf dari pembaca yang budiman semoga diberikan kepada kami, walau permohonan maaf ini hanya melalui tulisan saja.
“Mohon Maaf Lahir dan Batin”

_______
Penulis adalah. Ka Subbag TU Kantor Kemenag Kota Pekanbaru. [Isi tulisan sepenuhnya tanggungjawab penulis]





 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Tanjung Pinang-Kepri | Indeks
Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik Wartawan | Disclaimer |Redaksi
Copyright 2012-2024 SULUH RIAU , All Rights Reserved