Tanah Lapang Itu Bernama Lapangan Bukit, Konon Dulunya Icon Senapelan
Minggu, 03 Maret 2019 - 20:33:43 WIB
|
Csmat Senapelan Fabilla Samdy usai main bola di Lapangan Bukit senapelan
|
SULUHRIAU, Pekanbaru- Jika kita melewati Jalan Panglima Undan Pekanbaru, tepatnya di sebelah Timur Kantor Camat Senapelan, ada terhampar luas tanah lapang.
Di sebelah Utara lapangan itu ada sedikit bangunan tribun penonton dengan sentuhan ornamen Selembayung Melayu. Tanah lapang itulah dinamakan Lapangan Bukit Senapelan-begitu warga Senapelan, Pekanbaru mengenalnya. Lapangan ini berada di wilayah Kelurahan Kampung Bandar. Dalam perjalanan waktu, lapangan itu juga disebut masyakarat sebagai Lapangan Bukit Putra Senapelan.
Sepintas lapangan itu terlihat biasa saja, bahkan kadang terlihat sampah-sampah plastik berserakan di lapangan ini.
Baru-baru ini suluhriau.com sengaja lewat jalan di depan Lapangan Bukit tersebut. Ya, terlihat biasa saja, bahkan mengesankan jarang dimanfaatkan.
Namun, bukan berarti lapangan itu tidak digunakan, paling tidak ketika musim pilkada atau pesta demokrasi, lapangan itu digunakan untuk lokasi kampanye.
Bahkan, masa Pilgubri 2018 lalu, pasangan Syamsuar-Edy Natar Nasution-yang kini sudah resmi menjadi Gubernur Riau-Wakil Gubernur Riau menjadikan lapangan itu untuk salah satu titik deklarasi mereka.
Dulu masa Herman Abdullah maju sebagai calon Gubernur Riau, juga menjadikan lapangan itu salah satu lokasi untuk kampanye, dengan mendatangkan Grup Band Radja dan artis dangdut Iis Dahlia.
Tapi mungkin banyak masyarakat belum tahu sejarah Lapangan Bukit itu. Lapangan ini menurut Camat Senapelan, Fabilla Sandy, konon dulunya menjadi icon Pekanbaru.
Obet panggilan akrab Fabilla Sandy yang tak lain adalah putra Kampung Bandar Senapelan, lahir dan dibesarkan di wilayah itu. Dalam perjalanan hidup hingga masa remajanya, lapangan itu membawa kenangan tersendiri baginya. "Di lapangan itu setiap sore kami bermain bola, dan klub bola kami lumayan terkenal," kenangnya.
Seperti dikatakan Obet, setahunya lapangan itu dulunya sebagai pusat kegiatan olah raga, yang tidak hanya olah raga nasional, tetapi berbagai permainan tradisional daerah ini, seperti main layang-layang, gasing, enggrang, patuk lele dan lain-lain.
Masih menurut Camat Fabilla, seperti informasi yang ia peroleh dari tetua Senapelan dan orang tertentu warga Senapelan, awalnya Lapangan Bukit ini lahannya merupakan hibah dari warga Senapelan untuk kegiatan masyarakat Kampung Bandar. "Datuk-datuk daerah ini dulunya menghibahkan lahan untuk lapangan ini, salah satunya Datuk Penghulu Ismail, sekitar tahun 1950-an, saat itu saya belum lahir," katanya.
Nah, seiring waktu berjalan, Lapangan Bukit Putra Senapelan ini, diakui Obet pemanfaatannya kurang maksimal. Tidak lagi dilihat keceriaan anak-anak bermain bola setiap sore atau minggu pagi secara rutin di lapangan itu, dan jauh sekali untuk kegiatan permainan tradisional Melayu.
Menurut Obet, akhir-akhir ini Lapangan Bukit Senapelan hanya dimanfaatkan dua kali setahun, yakni untuk Shalat Idul Fitri dan Idul Adha.
Melihat fenomena ini, ia akan berusaha memaksimalkan fungsi lapangan tersebut. Namun diakuinya, ini tidak bisa Camat sendirian. Melainkan perlu sinergi dengan pihak terkait dan stakeholder yang ada.
Sehingga lapangan itu bisa tidak dimanfaatkan maksimal.
"Di tengah saat ini sudah sulitnya mencari tanah lapang untuk mendorong kegiatan olahraga, kita ada lapangan justru kurang dimanfaatkan. Saya siap menghidupkan kembali eksistensi lapangan ini yang sudah mati suri. Namun tidak bisa sendiri. Saya ingin mengajak semua pihak termasuk masyarakat untuk bersama mengangkat kembalikan eksistensi lapangan ini," katanya akhir pekan ini.
Terlepas Lapangan Bukit, wilayah Senapelan memiliki banyak peninggalan sejarah
yang perlu digali. Mungkin cagar budaya atau situs- situs bersejarah lainnya yang ada di wilayah Senapelan ini untuk ditempatkan kembali di posisinya. "Kalau bicara ini tentu perlu melibatkan OPD lain, seperti Dinas Kebudayaan Pariwisata dan lainnya serta dukungan anggaran," pungkas Fabilla. (Chr)
Komentar Anda :