SULUHRIAU, Jakarta- Keikutsertaan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranasda) Kabupaten Bengkalis pada ajang Pameran Kriya Nusa, sempena Hari Ulang Tahun ke-39 Dekarnas, harus dimanfaatkan sebagaimana mungkin untuk ajang promosi hasil kerajinan unggulan Negeri Junjungan Bengkalis.
“Kita harus memanfaatkan momentum ini untuk lebih gencar promosi dan memperkenalkan produk-produk kerajinan yang kita miliki. Selama ini, kita punya produk kerajinan unggulan yang tak kalah saing dengan daerah lain,†ungkap Ketua Dekranasda Kabupaten Bengkalis, Kasmarni di sela-sela meninjau stand Provinsi Riau.
Sebagaimana diketahui, hasil kerajinan asal Kabupaten Bengkalis dipajang bersama Dekranasda provinsi dan kabupaten/kota di Bumi Lancang Kuning. Pada ajang Pameran Kriya Nusa 2018, Bengkalis bersama Kota Dumai, Pekanbaru, Kampar, Kuansing, Indragiri hilir dan Dekranasda Provinsi Riau.
Berbagai produk kerajinan dipajang di stand tersebut. Dari kabupaten Bengkalis memamerkan tanjak, rajutan tas, tempat tisu, gantungan kunci, dompet, tikar pandan dari Desa Muntai, songket dari Desa Sebauk, dompet dari tempurung kelapa, dompet tenun dan meja hias.
Tema HUT ke-39 Dekranas, “Tingkatkan Sinergitas dan Kreatifitas Wirausaha Milenialâ€, diharapkan pameran Kriya Nusa 2018, Dekranasda dapat memberikan ruang bagi perajin untuk menampilkan produk unggulannya.
Dikatakan mantan Camat Pinggir ini, sesuai dengan tema HUT ke-39 Dekranas, tentunya pengurus Dekranasda bersama stakeholder terkait, harus mampu memanfaatkan teknologi dan informasi untuk mempromosikan hasil karya perajin Negeri Junjungan. Misalnya, semakin gencar menggunakan jejaring sosial untuk lebih memperkenalkan hasil perajin.
Kasmarni yakin dan percaya, saat ini para perajin di Negeri Junjungan sudah cerdas dalam mempromosikan karya ini, salah satunya dilakukan oleh perajin Trestiani. Untuk itu, isteri Bupati Bengkalis Amril Mukminin ini, terus mendorong Dekranasda dan instansi terkait untuk bisa memfasilisitas dan mendorong para perajin untuk lebih gencar promosi melalui kemajuan informasi dan komunikasi.
“Jika tidak ingin ketinggalan dengan daerah lain, bahkan negara jiran. Kita tidak boleh lengah. Guna segala saluran yang ada, untuk gencar promosi karya kerajinan dari Bengkalis. Mulai dari Youtube, Facebook, Instagram dan lainnya,†ungkap Kasmarni.
Selain itu itu, sesuai tema yang menekankan “milenialâ€, Kasmarni juga berpesan kepada stakeholder dan perajinan di Negeri Junjungan untuk, untuk untuk lebih kreatif dalam menghasilkan karyanya. Misalnya, unik, langka dan menarik, sehingga karya yang dihasilkan lebih mudah memikat setiap orang yang melihatnya.
“Kalau sudah terpikat, berapa pun harganya pasti akan dibeli,†ujarnya.
Melalui ajang, Kasmarni kembali meningatkan agar pihak pengurus Dekranasda dan perajin, dapat melihat-lihat stand dari daerah lain. Kemudian bertanya dan bila perlu catat, agar mendapatkan pengalaman dan diaplikasikan di Kabupaten Bengkalis. “Ini kesempatan bagi kita untuk menggali pengalaman sebanyak-banyaknya,†tandas Kasmarni.
Acara ini digelar di Main Loby, Plenary Hall dan ruang Cendrawasih, Jakarta Convention Center (JCC) dari 26 sampai 30 September 2018. Adalah Ismail dan Trestiani alias Ani, dua perajin yang beruntung pada ajang Kriya Nusa 2018. Karena warga Desa Lubuk Muda Kecamatan Siak Kecil dan Desa Senggoro Kecamatan Bengkalis, didaulat diikutsertakan pada ajang bergengsi di jagat kerajinan tangan ini.
Ismail dan Trestiani mengaku sangat beruntung, karena pihak Dekranasda bersama Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Bengkalis membawanya untuk datang pada ajang Kriya Nusa. Tidak hanya sekadar menampilkan hasil kerajinan, namun sebagai ajang promosi, sekaligus menimba pengalaman dengan para perajinan se-Nusantara.
Pada ajang Kriya Nusa ini, Ismail menampilkan hasil kerajinan yang selama ini ditekuni dan sekaligus menjadi salah satu sumber pendapatannya. Hasil kerajinan itu adalah variasi meja atau meja hias dengan berbagai ukuran.
Meskipun meja yang ditampilkan pada ajang yang digelar selama lima hari itu, hanya ukuran kecil bertingkat, untuk tempat menaruh bunga. Namun bagi ayah tiga anak ini, kehadirannya di JCC ini, selain untuk menimba ilmu juga untuk ajang promos terhadap produk-produk karya tangan yang selama ini hanya dikenal di level Kabupaten Bengkalis dan sekitarnya.
Dikatakan Ismail, selama ini meja hias hasil karya tangannya ini dipasarkan di pinggir jalan, tepatnya di perbatasan Kecamatan Siak Kecil dan Bukit Batu. Rata-rata jumlah kerajinan yang dijual bervariasi. Kadang dalam satu bulan terjual tiga, kadang dua dan bahkan tidak laku sama sekali. Harga bervariasai mulai dari harga jual Rp100 ribu hingga Rp1,5 juta. [las]
Komentar Anda :