Senin, 17 Agustus 2026 Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti | Digerebek di Peron Sawit, Pengedar Sabu di Kampar Kiri Hilir Ditangkap | Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang | Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan | Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan | Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
 
 
☰ Ekbis
Faktor Ekonomi Diprediksi Jadi Penentu Pemenang Pilpres 2019
Minggu, 16 September 2018 - 12:15:54 WIB

SULUHRIAU- Nilai tukar mata uang rupiah terhadap dollar AS anjlok ke tingkat yang sama dengan saat terjadi krismon tahun 1998.

Anjloknya nilai tukar Rupiah berpotensi mengancam peluang Presiden Joko Widodo untuk terpilih kembali. Saingannya kini mengalihkan fokus ke isu ekonomi dalam upaya mengekspos kelemahan utama Pemerintahan Jokowi.

Demikian disampaikan analis politik independen Kevin O"Rourke dalam wawancara dengan ABC Australia.

Bulan lalu, Presiden Jokowi memilih ulama konservatif Ma'ruf Amin sebagai calon wakil presiden, dalam pilpres yang diperkirakan akan banyak bertarung dalam isu agama.

Namun, anjloknya nilai tukar rupiah ke posisi terendah yang belum pernah terjadi sejak tahun 1998 dan menyebabkan jatuhnya rezim Suharto, pilihan calon wapres Jokowi itu sekarang dilihat sebagian orang justru sebagai "penghalang".

"(Joko) Widodo memasuki pemilu dengan menggunakan taktik pertempuran sebelumnya," ujar O"Rourke, yang menerbitkan buletin Reformasi Weekly.

"Ia memilih calon wakil presiden dari ulama yang sangat konservatif, tampaknya dengan pemikiran bahwa dia perlu mengantisipasi serangan dari sisi religiusnya," jelasnya.

"Kenyataannya, lawan-lawannya akan mengkritik dia dari sisi ekonomi dan cawapresnya tidak membantu sama sekali di bidang itu. Bahkan, dia mungkin jadi penghalang," tambah O"Rourke.

Sabtu pekan lalu, koalisi capres Prabowo Subianto mengeluarkan pernyataan menyalahkan pemerintahan Jokowi atas anjloknya nilai mata uang.

Prabowo at formal registration Calon Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyapa pendukungnya seusai pendaftaran resmi di KPU. "Kami sangat prihatin dengan melemahnya mata uang Rupiah," kata pernyataan itu.

"Ini menjadi beban ekonomi nasional kita, khususnya bagi rakyat Indonesia yang paling rentan, yang cepat atau lambat harus menghadapi kenaikan harga-harga bahan pokok," katanya.

"Fundamental ekonomi kita melemah karena ada kesalahan strategi yang digunakan untuk mendorong pembangunan ekonomi kita," demikian dikatakan.

Harga Pangan Jadi Isu Utama Pemilih

Nilai mata uang Rupiah terhadap dolar AS anjlok sekitar 9 persen tahun ini.

Hal itu sebagian disebabkan oleh keputusan AS menaikkan suku bunga sehingga mendorong aliran modal kembali ke AS, dan menghantam pasar negara berkembang seperti Turki dan Argentina.

Kondisi ini membuat banyak barang impor di Indonesia jadi lebih mahal, yang pada gilirannya memberikan tekanan pada inflasi.

"Jajak pendapat selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa yang paling penting bagi pemilih adalah inflasi, terutama harga makanan," jelas O"Rourke.

"Jika nilai mata uang terus melemah, harga makanan pasti akan naik," tambahnya.

Matthew Busch, Visiting Fellow pada Lowy Institute di Australia, mengatakan jika harga makanan menjadi lebih mahal, pasti Presiden akan disalahkan.

"Jika harga makanan mulai bergerak naik, itu bisa menjadi masalah nyata," ujar Busch.

"Hal ini telah menggerakkan pemilih di masa lalu dan memiliki dampak nyata pada cara rakyat mengevaluasi kinerja Presiden," tambahnya.

Tahun ini saja Indonesia telah mengimpor 2 juta ton beras, jauh lebih banyak dari biasanya, dalam upaya untuk menekan harga bahan makanan utama ini.
Pilpres akan sangat kompetitif

Pemerintahan Jokowi juga telah memberlakukan langkah-langkah proteksionis, termasuk menaikkan tarif hingga 10 persen pada sekitar 1.000 barang diimpor, mulai dari sabun hingga elektronik, dalam upaya memperkecil defisit neraca berjalan.

Dua pekan lalu, Perdana Menteri Australia Scott Morrison menandatangani perjanjian dengan Presiden Jokowi untuk merampungkan negosiasi Perdagangan Bebas kedua negara.

Namun, Profesor Hal Hill, pakar ekonomi pada Australian National University, menilai perdebatan tentang nilai tukar Rupiah "berlebihan".

"Indonesia mengalami salah satu krisis ekonomi terbesar di dunia modern tahun 1997/98 ketika Rupiah anjlok dan sektor perbankan runtuh, serta memicu keruntuhan rezim Suharto," katanya.

"Jadi, setiap kali terjadi pergerakan signifikan dalam nilai Rupiah, orang mulai jadi tegang," jelasnya.

"Saya tak melihat ini akan seperti krisis besar Indonesia sebelumnya, atau menjadi krisis cukup serius seperti di Argentina dan mungkin Turki," kata Prof Hill.

Namun bukan berarti lawan-lawan Presiden Jokowi tak akan menggunakan isu nilai mata uang ini untuk menyerangnya. Prabowo telah memilih Sandiaga Uno, seorang pengusaha kaya dan sukses, sebagai calon wakil presiden.

Jokowi adalah presiden populer dan umumnya diperkirakan akan memenangkan Pilpres bulan April mendatang. Namun O"Rourke percaya kombinasi dari kenaikan harga pangan dan pilihan calon wapres, bisa secara signifikan mempersempit kesejangan jumlah dukungan nantinya.

"Dua faktor ini dapat membuat pemilihan presiden lebih kompetitif, mungkin terlalu kompetitif untuk berleha-leha," ujarnya.

Sumber: BBC Australia.com , Viva.co.id | Editor: Jandri



 
Berita Lainnya :
  • Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti
  • Digerebek di Peron Sawit, Pengedar Sabu di Kampar Kiri Hilir Ditangkap
  • Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
  • Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
  • Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Obor Menyala di Tengah Hening, Forkopimda Kampar Renungan Suci di TMP Kusuma Eka Bhakti
    02 Digerebek di Peron Sawit, Pengedar Sabu di Kampar Kiri Hilir Ditangkap
    03 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    04 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    05 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    06 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    07 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    08 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    09 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    10 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    11 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    12 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    13 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    14 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    15 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    16 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    17 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    18 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
    19 September 2026, 2,4 Juta Warga Singapura Terima Bantuan Tunai hingga Rp8,3 Juta
    20 Perdana Dilakukan di Pekanbaru, Wali Kota Ajak Kepala OPD Menginap Bersama Retreat RT-RW
    21 Kemenkum Riau Dorong Civitas Akademika UIR Lindungi Inovasi Melalui Paten
    22 Remaja 18 Tahun Terjun ke Sungai Siak di Bawah Jebatan Leighton, Begini Detik-detik Penyelamatan Polisi
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat