Senin, 17 Agustus 2026 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang | Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan | Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan | Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal | PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA | Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
 
 
☰ Peristiwa
Ilmuwan Temukan Fosil Burung Terkecil yang Hidup 127 Juta Tahun Lalu
Rabu, 07 Maret 2018 - 10:06:35 WIB

SULUHRIAU- Para ilmuwan mengungkapkan mereka telah menemukan fosil burung terkecil di dunia.

Bayi burung itu hidup 127 juta tahun yang lalu dan tergolong ke dalam kelompok burung primitif yang hidup bersama-sama dengan dinosaurus.

Fosil burung dari periode ini tergolong jarang, dan fosil-fosil anak unggas lebih langka lagi, "paling langka di antara yang langka".

Para ilmuwan mengatakan penemuan fosil burung itu memungkinkan mereka menelaah lebih jauh kehidupan unggas purba yang sudah punah, yang hidup antara 250 dan 66 juta tahun yang lalu.

Unggas itu termasuk dalam keluarga enantiornithine, yang sebagian besar memiliki gigi dan cakar di masing-masing sayapnya, namun secara keseluruhan tampak seperti burung modern.

"Sangat menakjubkan ketika menyadari bahwa banyak jenis burung yang kita lihat di antara unggas-unggas sekarang ini ternyata sudah berkembang sejak lebih dari 100 juta tahun yang lalu," kata Luis Chiappe, dari Museum Sejarah Alam, Los Angeles.

Burung itu mati tidak lama setelah menetas dari telurnya.

Para periset dari Inggris, Spanyol, Swedia dan Amerika Serikat menggunakan teknologi mutakhir untuk mempelajari tulang fosilnya.

Analisis dalam sinkrotron - partikel yang menggunakan cahaya sangat intens untuk mempelajari minute matter - mengungkapkan bahwa anak unggas itu mungkin belum bisa terbang pada tahap ini.

Tulang rawan pada sternum (tulang dada di tengah) belum sepenuhnya mengeras menjadi tulang.

Peneliti utama Fabien Knoll dari ARAID-Dinopolis dan University of Manchester mengatakan bahwa analisis perkembangan tulang dapat digunakan untuk mempelajari sejumlah karakteristik evolusioner.

"Teknologi baru menawarkan kemampuan paleontologi yang belum pernah ada sebelumnya untuk menyelidiki kerangka-kerangka itu," katanya.

Kerangka-kerangka tersebut ditemukan bertahun-tahun yang lalu di situs Las Hoyas yang terkenal di Spanyol. Namun, sebagian besar baru diteliti sekarang.

"Teknik yang kami gunakan untuk menganalisisnya di kertas (seperti mikrotomografi sinkrotron dan pemetaan unsur) belum dikembangkan saat spesimen itu ditemukan," kata Dr Knoll.

Mempelajari proses perkembangan tulang bisa banyak menjelaskan tentang kehidupan dan perkembangan anak burung. Bayi unggas zaman purba ini mungkin sudah seperti ayam modern, yang memiliki bulu dan bisa bergerak sejak lahir.

Atau bisa juga lebih mirip dengan burung-burung lainnya, yang menetas tanpa bulu dengan mata tertutup, yang berarti membutuhkan pengasuhan dari induknya.

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nature Communications menunjukkan bahwa enantiornithines atau keluarga unggas memang sangat beragam dalam perilaku serta perkembangannya.

Sumber: BBCIndonesia.com | Editor: Jandri




 
Berita Lainnya :
  • Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
  • Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
  • Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
  • Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
  • PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
  •  
    Komentar Anda :

     
    + Indeks Berita +
    01 Bersama UAS dan Habib Syahab, Ribuan Jamaah Hadiri Maulid Nabi di Masjid Hajjah Rohana Rimbo Panjang
    02 Seharian Penuh Keceriaan Warga RT 06/RW 03 Putri Tujuh Rayakan HUT ke-81 RI dengan Berbagai Perlombaan
    03 Operasi PETI di Kampar Kiri, 2 Rakit Tambang Emas Dibakar dan 1 Mesin Diamankan
    04 Local Media Community Gandeng Google Perkuat Ekosistem Media Lokal
    05 PWI Riau Ingatkan Anggota Segera Reaktivasi KTA
    06 Maumere Diguncang Gempa Kuat, Ruang Tunggu Pelabuhan Laurentius Say Roboh
    07 Jelang HUT ke-81 RI, Wabup Kampar Kukuhkan 30 Putra Putri Paskibraka 2026 di Balai Bupati
    08 Kwarnas Anugerahkan Lencana Darma Bakti ke Kak Sulastri di Peringatan Hari Pramuka ke-65
    09 UMKM Dumai Diajak Naik Kelas, Kemenkum Riau Genjot Legalitas Lewat Perseroan Perorangan
    10 Dorongan Inovasi Daerah, Kemenkum Riau Gaungkan Pentingnya Lindungi Kekayaan Intelektual
    11 142 Kali Terbakar Sejak Januari 2026 di Pekanbaru, 2 Orang Meninggal
    12 Kemenkum Hadirkan Penyelesaian Langsung Berbagai Persoalan Layanan Hukum
    13 10 Hektar Lahan Gambut Terbakar di Kualu Nenas, 55 Personel Gabungan Berjibaku Padamkan Api
    14 Resahkan Warga, Polsek Kampar Kiri Bakar Rakit Tambang Emas Ilegal di Desa Terusan
    15 Harmonisasi 5 Ranperbup Kampar, Kemenkum Riau Pastikan Regulasi Pas dan Tidak Tabrak Aturan
    16 Kemenkum Riau Dorong Penguatan Sinergi dan Profesionalisme Advokat
    17 September 2026, 2,4 Juta Warga Singapura Terima Bantuan Tunai hingga Rp8,3 Juta
    18 Perdana Dilakukan di Pekanbaru, Wali Kota Ajak Kepala OPD Menginap Bersama Retreat RT-RW
    19 Kemenkum Riau Dorong Civitas Akademika UIR Lindungi Inovasi Melalui Paten
    20 Remaja 18 Tahun Terjun ke Sungai Siak di Bawah Jebatan Leighton, Begini Detik-detik Penyelamatan Polisi
    21 Dari Istana ke Desa Gobah, Prabowo Apresiasi 110 Jembatan Merah Putih Presisi di Riau
    22 Wujudkan WBBM 2026, Kemenkum Riau Benahi Data dan Inovasi Layanan
     
    Redaksi | Indeks Berita
    Disclaimer | Pedoman Media Siber | Kode Etik Jurnalistik
    © SuluhRiau.com | Pencerahan Bagi Masyarakat