Jawaban Kebingungan Banyak Orang Tentang Kondisi Ekonomi Indonesia [2]
Senin, 30 Oktober 2017 - 07:59:52 WIB
SULUHRIAU- Mungkin ini jawaban paling tepat dari semua pertanyaan
tentang ekonomi Indonesia. Banyak orang bingung melihat satu persatu
ritel tutup. Mulai 7-Eleven hingga Lotus dan Debenhams semua ditutup.
Kelas Menengah Atas Banyak Uang Tapi Takut Belanja
Mantan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) ini melanjutkan analisanya. Kelas menengah ke atas, khususnya profesional, menurut Chatib masih tetap bisa bertahan meskipun kondisi ekonomi agak goyang.
Pendapatan terus mengalami peningkatan, apalagi yang terlibat investasi di pasar modal. Sekarang saja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melaju kencang sampai ke level 6.000.
"Gaji profesional, pegawai kantoran itu kan naik terus. Jadi income mereka naik," kata Chatib, dilansir detikFinance, (30/10/2012)
Kelompok ini mengalami perubahan gaya hidup. Tadinya belanja pakaian, kendaraan hingga ponsel setiap saat kemudian beralih menjadi rekreasi dan liburan. Makanya dalam beberapa kuartal terakhir, berdasarkan laporan Badan Pusat Statistik (BPS), sektor informasi dan komunikasi, transportasi dan pergudangan dan jasa mengalami pertumbuhan cukup tinggi.
Sayangnya perubahan gaya hidup juga tidak merata. Ada kelompok kelas menengah atas yang juga mengalami kekhawatiran berlebihan yang disebabkan oleh gejolak sosial dan politik dalam beberapa waktu terakhir. Juga kekhawatiran dengan pajak.
Rujukan datanya adalah data Statistik Perbankan Indonesia (SPI). Total dana pihak ketiga (DPK) perbankan nasional per Mei 2017 tercatat Rp 5.012 triliun atau tumbuh 11,18% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya Rp 4.508 triliun.
Peningkatan ini terjadi sejak 2014 dari Rp 4.114 triliun naik 7,27% menjadi Rp. 4.143 triliun pada 2015. Kemudian tumbuh 9,59% menjadi Rp 4.836 triliun pada akhir 2016. Kenaikan tertinggi adalah untuk simpanan di atas Rp 2 miliar.
"Mereka enggak berani spending (belanja), makanya saving (tabungan) naik tajam," papar Chatib.
Simpanan yang tinggi merupakan bagian dari antisipasi bila ada kondisi buruk datang tiba-tiba, misalnya pemutusan hubungan kerja (PHK). Kelas menengah juga tak mau ambil risiko terlalu besar untuk berinvestasi di sektor rill, seperti properti.
Kelompok Menengah Bawah Terpuruk
Saat kelompok menengah atas terus mendapatkan peningkatan pendapatan, kelompok menengah ke bawah alias masyarakat miskin dan rentan miskin justru makin terpuruk. Kondisi yang tidak sesuai dengan keinginan pemerintah yang selalu gencar akan pemerataan ekonomi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip detikFinance, upah rill buruh bangunan turun dari Rp 65.211 per hari pada Januari 2017 menjadi Rp 64.867 per hari di September 2017.
Begitu juga dengan pembantu rumah tangga pada periode yang sama, dari awalnya Rp 380.968 per bulan menjadi Rp 360.968.
Untuk buruh tani memang ada kenaikan dari Rp 37.064 menjadi Rp 37.711. Namun bila dibandingkan pertumbuhannya dibandingkan periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya, periode sekarang sangat rendah.
"Jadi upah pekerja itu makin lama makin turun. Mereka yang terkena imbas dari perlambatan ekonomi," ungkap Chatib.
Ditambah lagi ada persoalan keterlambatan penyaluran beras untuk masyarakat sejahtera (rastra) pada pertengahan tahun lalu.
Ada sebuah konsep yang berbeda dalam dua kelompok ini. Menurut Chatib pada kelompok menengah atas, meskipun ada gejolak ekonomi, penghasilannya tetap akan naik minimal pada batas inflasi. Sementara kelompok menengah ke bawah tidak.
Chatib juga mengungkit soal jawaban pemerintah yang selalu mengatasnamakan pertumbuhan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebagai gambaran konsumsi masyarakat masih tinggi. Patut diakui pertumbuhan 14% memang cukup tinggi. Akan tetapi itu tak berlaku bagi kelompok menengah ke bawah.
"Lah orang-orang ini kan makan di warteg, itu warteg enggak narik PPN. Jadi enggak mutlak jadi gambaran daya beli keseluruhan," paparnya.
Kesimpulan dari Chatib, fenomena sekarang tidak bisa diukur dari satu komponen saja. Ada masyarakat yang masih memiliki daya beli bagus, namun tak sedikit juga terpuruk.
"Kalau hanya melihat dari satu komponen maka tidak akan ketemu persoalannya. Semua memiliki keterkaitan sehingga menimbulkan fenomena seperti sekarang," tutupnya. [dtf,jan]
Komentar Anda :