Tantangan Media Digital, SMSI dan RRI Bangun Ekosistem Informasi yang Sehat Sabtu, 22/08/2026 | 16:18
SULUHRIAU- Teknologi digital mengubah cara kerja jurnalis. Kecepatan saja tidak cukup. Hari ini wartawan harus menguasai banyak format, dari tulisan, audio hingga video.
Tuntutan itu mengemuka dalam Diskusi Panel Pengembangan Kompetensi Jurnalistik LPP RRI, Kamis 21 Agustus 2026.
Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia Firdaus menyebut kolaborasi antara RRI dan ekosistem media siber jadi kebutuhan mendesak. Tujuannya menghadapi disinformasi dan menjaga ruang publik tetap sehat.
"Konvergensi media penyiaran publik dan media siber adalah langkah strategis menjaga kedaulatan informasi di Indonesia," ujarnya.
Di era digital, tugas jurnalis semakin luas. Tidak hanya menulis. Mereka juga harus mampu memproduksi audio, video, foto, mengolah data, dan meliput dengan perangkat bergerak.
Firdaus merinci empat kompetensi utama yang harus diperkuat.
Pertama, etika jurnalistik dan Uji Kompetensi Wartawan. Sertifikasi ini penting untuk memastikan wartawan profesional, independen, dan taat Kode Etik.
Kedua, Mobile Journalism atau MoJo. Wartawan perlu mahir meliput hanya dengan smartphone. Mulai ambil gambar, rekam audio jernih, sampai edit video berita.
Ketiga, fact-checking. Kemampuan verifikasi data dan menggunakan perangkat investigasi digital wajib dikuasai agar berita bebas hoaks.
Keempat, digital analytics dan GEO. Jurnalis harus paham perilaku audiens dan cara mendistribusikan berita di ekosistem digital.
Namun Firdaus mengingatkan, teknologi tidak boleh menggerus kualitas.
"Kolaborasi RRI dan SMSI menjadi kunci sebagai truth enforcer nasional," katanya.
RRI dan SMSI dinilai punya kekuatan saling melengkapi. RRI sebagai lembaga penyiaran publik menjangkau hingga daerah perbatasan lewat jaringan audio dan multiplatform.
SMSI sebagai konstituen Dewan Pers menaungi ribuan media siber di seluruh daerah. Jaringannya kuat di akar rumput.
Perpaduan ini diyakini bisa memperluas jangkauan informasi sekaligus meningkatkan kualitas pemberitaan dari daerah.
Dalam diskusi itu, Firdaus mengusulkan sejumlah bentuk kerja sama. Di antaranya pelaksanaan UKW bagi wartawan anggota SMSI, pelatihan Training of Trainer untuk mencetak penguji UKW, serta pembaruan materi UKW sesuai kebutuhan zaman.
Kolaborasi juga diarahkan ke penguatan newsroom. RRI dan media anggota SMSI diharapkan saling mendukung dalam distribusi informasi pembangunan dan mengangkat suara daerah ke tingkat nasional.
Bagi Firdaus, tantangan ke depan bukan hanya berebut perhatian audiens. Yang lebih penting adalah memastikan masyarakat mendapat informasi benar, terverifikasi, dan berkualitas.
"Pers yang kuat lahir dari jurnalis kompeten dan perusahaan media yang sehat. Kolaborasi RRI dan SMSI adalah kunci mencerdaskan kehidupan bangsa," tegasnya.
Dengan sinergi ini, kapasitas jurnalis diharapkan naik. Akses masyarakat terhadap informasi akurat dan berimbang pun semakin luas. (rls)