Sabtu, 08 08 2020
UAS: Yang Ingin MUI Bubar Justru Masuk Bui Duluan | Usai Diperiksa, Pengacara Djoko Tjandra Anita Kolopaking Ditahan di Rutan Bareskrim | Gagal Lagi di Liga Champions, Presiden Juventus Bahas Isu Kepindahan Ronaldo | Pesawat India Terbelah Menjadi Dua Bagian saat Mendarat di Bandara Calicut, 17 Orang Tewas | Ketua Bawaslu Riau Nilai Penyelesaian Sengketa Pilkada Inhu Sudah Sesuai Prosedur | Kadispar Riau Dukung Program-Program Aseri Bangun Seni dan Pariwisata
 
Internasional
Dua Pangeran arab Saudi Ditangkap
Benarkah 2 Pangeran Kerajaan Arab Ingin Kudeta Tahta Raja Salman

Internasional - - Sabtu, 07/03/2020 - 20:49:12 WIB

SULUHRIAU- Dua pangeran Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Ahmed bin Abdulaziz dan Pangeran Mohammed bin Nayef telah ditangkap pihak keamanan setempat karena dituduh merencanakan kudeta untuk merebut tahta dari tangan Raja Salman bin Abdulaziz dan Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman.

Namun, usai penangkapan itu. Banyak yang meragukan bahwa kedua pangeran benar-benar ingin melengserkan Raja Salman dan putra dari tampuk tertinggi Kerajaan Arab Saudi.

Salah satu yang meragukan kudeta terjadi ialah Rami Khoury, seorang profesor jurnalisme dari American University of Beirut. Seperti diberitakan Aljazeera, Sabtu 7 Maret 2020.

Rami sangat ragu Pangeran Ahmed dan Pangeran Mohammed mampu melakukan kudeta. Sebab, jika dilihat dari posisi mereka saat ini, mereka jelas tak memiliki kekuatan untuk dihimpun menjadi sebuah aksi kudeta.

Karena selama ini, mereka sudah berada dalam kendali penuh Pangeran Mohammed bin Salman. Semua kekuatan terutama keamanan kerajaan sudah berada di tangan sang Pangeran Mahkota itu.

Menurutnya, penangkapan itu cuma bukti kegelisihan yang dialami Pangeran Mohammed bin Salman atas tahta raja yang secara de facto sudah berada di genggamannya.

"Ini adalah tanda kegelisahan putra mahkota dan orang-orang di sekitarnya yang memerintah Arab Saudi karena mereka mungkin berharap raja akan turun tahta atau meninggal segera. Mereka berharap mungkin ada semacam tantangan untuk suksesi," kata Rami.

Sementara itu menurut Becca Wasser, seorang analis kebijakan di RAND Corporation. Penangkapan itu malah seperti upaya Pangeran Mahkota untuk memuluskan langkahnya menuju singgasana raja.

Sebab, kedua pangeran yang ditangkap ini dianggap menjadi pesaingnya untuk bisa menggantikan posisi Raja Salman. Jadi Pangeran Mohammed bin Salman mengambil aksi cepat dengan upaya penangkapan tersebut.

"Pangeran Mohammed berani, dia telah menggulingkan ancaman apa pun untuk kenaikannya, dan memenjarakan atau membunuh kritik terhadap rezimnya tanpa dampak apa pun," Becca Wasser.

Memang sebenarnya jika dilihat dari posisi sebagai anggota kerajaan, Pangeran Ahmed sangat bisa berpeluang menjadi raja. Sebab dia adalah adik kandung dari Raja Salman.

Kedua pangeran itu ditangkap dengan tuduhan melakukan pengkhianatan dari ingin merebut tahta kekuasan. Mereka sudah dijebloskan ke penjara dan terancam mendapatkan hukuman penjara seumur hidup.

Kedua pangeran itu dibawa oleh petugas pengadilan Kerajaan Arab dengan mengenakan topeng berwarna hitam. Tak cuma itu, pihak berwenang juga telah melakukan penggeledahan di rumah keduanya.

Mohammed bin Nayef merupakan mantan menteri dalam negeri, posisi yang kuat dengan pengawasan pasukan dan layanan intelijen besar Riyadh, dan telah secara efektif berada di bawah tahanan rumah sejak ia dipindahkan dari jabatan itu oleh MBS pada 2017.

Selama beberapa tahun terakhir, kedudukan mereka dalam keluarga kerajaan telah berkurang ketika Raja Salman mengkonsolidasikan kekuasaan dan mengangkat putranya, MBS, sebagai pangeran mahkota dan penguasa de facto kerajaan.

Sumber: viva.co.id
Editor: Jandri


 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Tanjung Pinang-Kepri | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2020 SULUH RIAU , All Rights Reserved