Sabtu, 14 Desember 2019
9 Wantimpres Resmi Dilantik Jokowi, Wiranto Jadi Ketua | Mantan Kadis Pariwisata Riau Meninggal Dunia di Bandung | Asisten III Meranti Serahkan KIA ke Sejumlah Anak TK | Polres Rohul Gelar Rakor Persiapan Keamanan Natal dan Tahun Baru | Ini 8 Perempuan Riau Terima Anugerah Baiduri | Tertarik Cara Olahan Sagu Jadi Makanan, TPKK Kabupaten Serang Timur Stuban ke Meranti
 
Nasional
Pernyataannya Jadi Polemik, Menag: Kalau Menimbulkan Gesekan Mohon Maaf

Nasional - - Selasa, 05/11/2019 - 20:26:20 WIB

SULUHRIAU- Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi menyadari beberapa pernyataannya menjadi polemik di masyarakat. Fachrul meminta maaf bila pernyataannya menimbulkan gesekan di masyarakat.

"Kalau itu menimbulkan beberapa gesekan-gesekan ya mohon maaf. Rasa-rasanya nggak ada yang salah rasanya. Mungkin saya mengangkatnya agak terlalu cepat," kata Fachrul di The Sultan Hotel & Residence, Jalan Gatot Subroto, Gelora, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Selasa (5/11/2019).

Beberapa pernyataan Fachrul memang jadi kontroversi seperti larangan penggunaan cadar di lingkungan instansi masyarakat, celana cingkrang, hingga soal radikalisme. Dia menyatakan pernyataan tersebut dilontarkan agar menjadi atensi masyarakat sehingga masyarakat nantinya tidak kaget bila ada peraturan yang dibuat.

Selain itu, dia juga menyampaikan pernyataan tersebut agar masyarakat kembali ingat terkait peraturan yang sudah ada. Dia menyinggung soal pembubaran Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) karena memiliki paham yang tak sesuai dengan Pancasila.

"Tapi cepat itu juga menurut saya supaya segera bisa jadi gaung. Kemudian pada saatnya nanti saat terbit aturan-aturannya. Mungkin misalnya khilafah saya gaungkan lebih kencang mungkin kesepakatan kita membentuk peraturan perundang-undangan yang mengawali itu karena telah di dahului oleh pembubaran HTI," tuturnya.

"Itu saya jabarkan dengan melakukan banyak hal. Mungkin juga terlalu cepat, mungkin juga niatnya nggak terlalu cepat lalu kemudian bias sehingga terpaksa diluruskan gitu, muncullah masalah-masalah celana gantung misalnya, masalah niqab misalnya atau cadar, muncul lah masalah-masalah khilafah, muncul masalah radikalisme, dan berbagai hal terkait hal itu. Kemudian memunculkan banyak kontroversi," tambah Fachrul.

Fachrul kemudian mengatakan penggunaan cadar tidak dapat dijadikan tolak ukur ketakwaan seseorang. Dia juga menyinggung mengenai menampakkan wajah yang di beberapa tempat-tempat tertentu menjadi sebuah peraturan yang harus dipatuhi.

"Tapi cadar dari hasil pembahasan kami bukan bentuk ketakwaan orang. Jadi dengan demikian jangan dilihat orang yang pakai cadar kemudian takwanya sudah baik banget. Kemudian kalau ada larangan untuk masuk ke tempat-tempat tertentu untuk harus membuka helm dan menampakkan muka supaya bisa dilihat siapa yang masuk, bisa dilihat CCTV, orang nggak terkejut lagi," tuturnya.

Fachrul menjelaskan soal tugas pokok dan fungsinya selaku Menteri Agama (Menag) bukanlah mengajar mengaji, melainkan menata dan merumuskan kebijakan. Meski begitu, dia mengatakan tak terlalu awam dalam hal mengaji.

"Saya sudah menjabat dua minggu lebih. Saat saya terima tugas itu, saya pertama melihat tupoksinya, apa sih tugas pokoknya," kata Fachrul.

Fachrul adalah sosok berlatar belakang militer dan sempat menjadi Wakil Panglima TNI. Pangkat terakhirnya adalah Jenderal TNI. Dia yakin punya kemampuan menjalankan tugas sebagai Menag. Tugasnya bukan mengajari orang mengaji kitab suci, melainkan membuat kebijakan untuk bidang keagamaan.

"Kalau saya lihat itu kemampuan saya yang dituntut manajerial, menata, dan merumuskan, kebijakan di bidang keagamaan," kata Fachrul.

Sumber: detik.com
Editor: Jandri


 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Pemilu 2014 | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2017 SULUH RIAU , All Rights Reserved