Senin, 19 08 2019
Gedung DPRD Papua Barat di Manokwari Dibakar Pendemo | MUI Minta Polisi Usut Penyebar Video Ustadz Somad soal Salib | Wabup Meranti Pesan ke Pramuka Berperan Atasi Karhutla dan Sampah Plastik | Bupati Jadi Irup, Upacara Peringatan HUT RI ke-74 di Meranti Berjalan Hikmat dan Sukses | Pekan Ini, Seluruh JH Asal Meranti Tiba di Kampun Halaman | BRI Serahkan CSR untuk Sarana Pembangunan Pendidikan SLB Bengkalis
 
Nasional
Hari Pers Nasional 2019
Jokowi: Media Harus Bisa Cari Kebenaran dan Fakta

Nasional - - Sabtu, 09/02/2019 - 15:30:49 WIB

SUULUHRIAU- Presiden Joko Widodo mengatakan di era media sosial seperti sekarang ini siapa pun bisa memposisikan diri seperti jurnalis.
Namun, tidak sedikit yang menyalahgunakan medsos dan menciptakan serta menyebarkan informasi bohong sehingga menimbulkan kegaduhan.

Media arus utama, kata Jokowi, harus mencari kebenaran dan fakta sehingga mampu memerangi kegaduhan informasi bohong itu.

“Media harus bisa mencari kebenaran dan mencari fakta,” kata Presiden Jokowi dalam sambutannya di acara puncak Hari Pers Nasional di Grand City Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu, (9/2/2019).

Kebenaran dan fakta harus disuguhkan oleh media arus utama karena di era media sosial, lanjut Jokowi, setiap orang bisa bergaya dan memposisikan diri laiknya seorang jurnalis. Banyak yang menyalahgunakan media sosial dengan menciptakan ketakutan dan kegaduhan publik.

“Setiap orang bisa bisa menjadi wartawan dan pimred. Tetapi kadang digunakan untuk menciptakan kegaduhan,” ujarnya.

Jokowi memberi contoh ketika pemerintah menyampaikan satu informasi tentang kabar dan fakta, namun di publik disimpulkan sebagai pencitraan dan itu diramaikan di media sosial.
 
“Ketika pemerintah menyampaikan well infomation society, jangan diartikan sebagai kampanye atau pencitraan, tetapi itu untuk membangun masyarakat yang sadar akan informasi," kata dia.

Ketika seperti itu yang terjadi, Jokowi berharap media konvensional yang profesional dapat menjadi pengendali suasana.

Jokowi meyakini media massa arus utama berperan penting dalam hal itu. Masyarakat, kata dia, hingga kini masih lebih percaya kepada media konvensional dari pada informasi yang bertebaran di media sosial. “Pada tahun 2018, kepercayaan terhadap media konvensional adalah 63 persen berbading 40 persen untuk media sosial,” katanya.

Pada kesempatan itu diberikan penghargaan kepada beberapa insan pers yang berperan besar pada perkembangan dan kemajuan pers. Jokowi juga juga menerima penghargaan Kemerdekaan Pers. Calon presiden nomor urut 01 itu dinilai sebagai tokoh yang peduli terhadap pers Indonesia.

Sumber : Viva.co.id | Editor: Jandri

 
 
 
Home | Daerah | Nasional | Internasional | Hukrim | Gaya Hidup | Politik | Sport | Pendidikan | Metropolis | Sosial Budaya | Kesehatan | Ekbis
Religi | Kupas Berita |Tokoh | Profil | Opini | Perda | DPRD Kota Pekanbaru | Pemilu 2014 | Indeks
Pedoman Media Siber | Redaksi
Copyright 2012-2017 SULUH RIAU , All Rights Reserved